
Erick Thohir Soroti Pengorbanan Pemain Timnas
13 menit yang lalu
Kebutuhan LPG nasional diperkirakan 11–12 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri sekitar 1,8 juta ton.
Terbit · 1 min read

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia masih mengimpor sekitar 80 persen kebutuhan LPG. Menurut laporan CNBC Indonesia, ia menyampaikan hal itu dalam acara pembukaan Forek Hulu Migas 2026.
Acara tersebut berlangsung di Jakarta pada Rabu (28/10/2026). Bahlil menyebut kebutuhan LPG nasional sekitar 11–12 juta ton per tahun, sedangkan produksi dalam negeri sekitar 1,8 juta ton per tahun.
Bahlil mengatakan besarnya kebutuhan yang belum diimbangi produksi membuat Indonesia masih harus mengimpor LPG. Ia menyebut gas alam yang dihasilkan di dalam negeri bukan bahan baku untuk LPG.
Dalam paparannya, Bahlil menyebut kebutuhan Lotte mencapai 8,5 juta ton. Ia mengatakan Lotte dan Chandra Asri membutuhkan tambahan 3 juta ton, serta memperkirakan total kebutuhan LPG nasional sekitar 11–12 juta ton per tahun.
Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah mengembangkan sejumlah alternatif, termasuk pengolahan batu bara menjadi eter dimetil (DME). Pemerintah juga mendorong pemanfaatan gas alam terkompresi (CNG).
Menurut laporan yang sama, Bahlil mengatakan sebagian upaya konversi dilakukan melalui DME berbahan batu bara berkalori rendah. Pemerintah juga mendorong CNG sebagai pilihan pengganti LPG.
Uji coba CNG dalam tabung 3 kilogram masih berlangsung dan belum selesai. Kementerian ESDM mulai menguji tabung tersebut sejak awal September 2026.
Pengujian tabung CNG 3 kilogram dilakukan oleh Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) Kementerian ESDM.