
Hampir 60.000 Pelari Ikuti Maraton New York
11 menit yang lalu
Pemerintah mengkaji pembatasan smelter nikel setengah jadi dan mendorong pengolahan lanjutan di dalam negeri.
Terbit · 2 min read

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah mengkaji moratorium pembangunan smelter nikel yang hanya menghasilkan produk setengah jadi. Menurut laporan CNBC Indonesia, kajian itu didorong dominasi produk nikel tingkat menengah dalam hasil hilirisasi nasional.
Bahlil menyampaikan hal tersebut dalam acara Minerba Convention & Exhibition 2026 di Jiexpo pada Senin (2/11/2026). Ia meminta Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara menghitung kelayakan kelanjutan izin smelter yang menghasilkan produk setengah jadi.
Menurut laporan yang sama, Bahlil menyebut porsi produk tingkat menengah berada di kisaran 50-60 persen dari kapasitas produksi nasional. Pemerintah mendorong pengolahan lanjutan di dalam negeri agar Indonesia memperoleh manfaat lebih utuh dari hilirisasi.
Bahlil mengatakan pemerintah juga menggunakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk mengendalikan volume produksi nikel. Langkah itu disebut sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan mineral serta memengaruhi pasar nikel dunia.
Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) mencatat produksi nikel olahan hasil hilirisasi mencapai 2,5 juta ton pada 2025. Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah menyampaikan kepada CNBC Indonesia bahwa jumlah itu terdiri atas 2,05 juta ton produk NPI, FeNi, dan matte serta 450 ribu ton nikel dalam bentuk MHP dan nikel sulfat.
Arif mengatakan kapasitas fasilitas pemurnian nikel nasional pada 2025 mencapai 2,7 juta ton Ni. Produksi itu berasal dari pengolahan melalui jalur pirometalurgi dan hidrometalurgi. FINI juga mencatat Indonesia menguasai hingga sekitar 60 persen kebutuhan nikel dunia.
FINI memperkirakan produksi nikel olahan Indonesia pada 2026 turun 3,5-4 persen dibandingkan 2025. Menurut Arif, produksi diproyeksikan meningkat kembali pada 2027 seiring tambahan kapasitas dari proyek hidrometalurgi berbasis HPAL yang setelah konstruksi akan segera memasuki tahapan komisioning dan operasi penuh.
Arif menyebut penambahan kapasitas proyek HPAL difokuskan pada pengolahan nikel untuk bahan baku baterai kendaraan listrik. Ia memperkirakan kapasitas produksi MHP nasional, yang sebesar 450 ribu ton pada 2025, akan meningkat menjadi lebih dari 900 ribu ton nikel pada akhir 2027.