
Honor Magic 9 Meluncur Global di Hong Kong
11 menit yang lalu
Inflasi pangan dan beras melandai pada Oktober di tengah penguatan intervensi pasokan dan harga.
Terbit · 2 min read

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut inflasi pangan pada Oktober melandai seiring pemerintah memperkuat intervensi melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Gerakan Pangan Murah (GPM), serta distribusi pangan. Menurut laporan ANTARA, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan keterangan itu di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan Bapanas, inflasi umum bulanan pada Oktober tercatat 0,22 persen. Inflasi pangan bulanan juga turun menjadi 0,77 persen dari 1,46 persen pada September.
BPS melaporkan beras tidak memberikan andil signifikan terhadap inflasi pangan pada Oktober. Inflasi beras bulanan tercatat 0,08 persen, turun dari 0,80 persen pada September, yang disebut sebagai tingkat tertinggi pada 2026.
Menurut laporan yang sama, inflasi beras tertinggi sebelumnya pada 2026 terjadi pada Maret, sebesar 0,65 persen. Bapanas menambah penugasan program SPHP beras untuk menahan fluktuasi harga selama Oktober, setelah penugasan pertama yang dimulai pada Maret direalisasikan Bulog sepenuhnya pada pekan keempat September.
“Pangan kita kuat. Apalagi stok beras tertinggi sepanjang sejarah. Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo, salurkan stok untuk kepentingan masyarakat melalui SPHP, bantuan pangan, dan sebagainya,” kata Amran, menurut laporan ANTARA.
Bapanas mencatat penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP) kepada masyarakat selama Oktober mencapai sekitar 161 ribu ton. Sebagian besar disalurkan sebagai beras SPHP melalui Bulog untuk membantu menjaga akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap beras dengan harga terjangkau.
Bapanas bersama pemerintah daerah, BUMN, BUMD, dan kalangan swasta konsisten mengadakan GPM, dengan realisasi 1.595 kali di 38 provinsi selama Oktober. Melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), lebih dari 22,2 ton berbagai komoditas didistribusikan pada bulan yang sama, termasuk cabai rawit merah ke daerah yang mengalami fluktuasi harga.
Bapanas menyebut fenomena El Niño akan melanda Indonesia dan juga terjadi secara global. Amran mengatakan Indonesia telah bersiap melalui penguatan dari hulu hingga hilir. “El Nino saat ini dikatakan yang paling berat. Tapi Indonesia sudah bersiap sejak jauh-jauh hari, mulai dari penguatan hulu sampai hilir. Tidak perlu khawatir berlebihan. Insya Allah pangan kita aman,” ucap Amran, menurut laporan yang sama.
Stok CBP yang dikelola Perum Bulog mencapai 4,5 juta ton pada akhir Oktober 2026. Cadangan itu digunakan untuk intervensi harga di pasar dan mendukung bantuan pangan bagi keluarga penerima manfaat dalam desil satu hingga empat.