
Senator AS Chris Murphy Dilarikan ke RS Akibat Stroke
12 menit yang lalu
Produksi beras 2026 diperkirakan 33,11 juta ton, turun 4,57 persen seiring menyusutnya luas panen padi.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras nasional sepanjang 2026 turun dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan hasil amatan Kerangka Sampel Area (KSA) September 2026, produksi beras Januari-Desember 2026 diperkirakan mencapai 33,11 juta ton.
Angka tersebut turun 4,57 persen atau sekitar 1,59 juta ton dibandingkan periode yang sama pada 2025. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan penurunan itu sejalan dengan proyeksi produksi padi yang juga lebih rendah tahun ini. Ia menyampaikannya dalam konferensi pers BPS pada Senin (2/11/2026).
Menurut laporan yang sama, produksi beras pada September 2026 diperkirakan 2,81 juta ton, turun 18,25 persen dari September 2025 yang mencapai 3,44 juta ton. Produksi sepanjang Januari-September 2026 diperkirakan 28,10 juta ton, turun 2,12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Untuk Oktober-Desember 2026, BPS memperkirakan potensi produksi beras hanya 5,01 juta ton. Angka itu turun 16,32 persen atau sekitar 980 ribu ton dari periode yang sama pada 2025. Produksi padi dalam bentuk gabah kering giling (GKG) sepanjang 2026 diperkirakan 57,45 juta ton, turun 4,57 persen atau sekitar 2,75 juta ton dari tahun sebelumnya.
Penurunan produksi tersebut sejalan dengan menyusutnya luas panen padi. BPS memperkirakan luas panen sepanjang Januari-Desember 2026 mencapai 10,78 juta hektare, turun 4,80 persen. Pada September 2026, luas panen tercatat 0,91 juta hektare atau turun 19,40 persen dari 1,13 juta hektare pada September 2025.
Luas panen Januari-September 2026 mencapai 9,24 juta hektare, turun 2,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Adapun luas panen Oktober-Desember 2026 diperkirakan 1,54 juta hektare, menyusut 17,75 persen atau sekitar 330 ribu hektare dari periode yang sama pada 2025.
BPS juga mencatat perubahan kondisi pertanaman pada September 2026. Proporsi terbesar lahan, yakni 34,81 persen, sedang ditanami selain padi, sedangkan lahan yang sedang ditanami padi hanya 20 persen. Lahan yang diberakan mencapai 25,74 persen, lahan yang telah dipanen 11,74 persen, dan lahan dalam tahap persiapan 6,94 persen.
Ateng menjelaskan, proporsi lahan yang ditanami padi pada September 2026 turun dibandingkan Agustus 2026 maupun September 2025, sementara proporsi lahan yang diberakan dan yang ditanami selain padi naik. Menurut dia, kondisi itu mengindikasikan lebih rendahnya luas pertanaman padi pada fase vegetatif awal, vegetatif akhir, dan generatif, sehingga berpotensi diikuti penurunan potensi luas panen dalam tiga bulan berikutnya.
Menurut laporan yang sama, potensi panen pada Oktober-Desember 2026 terbesar terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Di tingkat kabupaten, antara lain Indramayu, Subang, Karawang, Bekasi, Cirebon, Sragen, Pemalang, Ngawi, Banyuwangi, Ponorogo, Jember, dan Lumajang. Ateng mengingatkan bahwa angka potensi masih dapat berubah, bergantung pada kondisi pertanaman hingga Desember, seperti serangan hama atau organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, dan perubahan waktu panen oleh petani.