
SPKS Minta RSPO Buka Data dan Perluas Pasar Fisik
19 menit yang lalu
Inflasi bulanan Jawa Barat mencapai 0,2 persen pada Oktober; kenaikan harga cabai dan tomat menjadi pemicu.
Terbit · 1 min read

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan Jawa Barat sebesar 0,2 persen pada Oktober 2026, terutama dipicu kenaikan harga cabai dan tomat. Menurut laporan ANTARA, Kepala BPS Provinsi Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati menyampaikan keterangan di Bandung, Senin (2/11/2026).
Inflasi tahun berjalan Jawa Barat tercatat 2,31 persen, sedangkan inflasi tahunan mencapai 2,90 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,69. Dalam pemantauan IHK di 10 kabupaten/kota, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kota Cirebon.
Secara tahunan, inflasi tertinggi terjadi di Kota Cirebon sebesar 3,02 persen dengan IHK 110,89. Kabupaten Majalengka mencatat inflasi tahunan terendah, yaitu 2,62 persen dengan IHK 112,61.
Untuk inflasi bulanan, Kota Bogor mencatat angka tertinggi sebesar 0,35 persen. Kota Bandung menjadi yang terendah dengan inflasi 0,08 persen.
Ari mengatakan capaian inflasi masih berada dalam rentang sasaran yang terkendali. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar, dengan andil 0,12 persen dan inflasi kelompok 0,41 persen.
Menurut laporan yang sama, kenaikan harga pada kelompok tersebut didominasi cabai rawit, cabai merah, dan tomat. Ari menyebut keterbatasan pasokan akibat musim kemarau panjang dan serangan hama patek pada tanaman hortikultura sebagai pemicu kenaikan harga cabai dan tomat.
Penurunan harga daging ayam ras dan telur ayam ras, yang dikaitkan dengan pasokan melimpah, turut meredam inflasi. Harga emas perhiasan juga turun mengikuti tren harga emas di pasar global, sementara harga beras mulai menunjukkan tren penurunan pada Oktober 2026.
Dalam inflasi tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberi andil terbesar, sebesar 1,23 persen. Berikutnya, kelompok transportasi menyumbang 0,45 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,37 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,27 persen.
BPS Jawa Barat mengharapkan Tim Pengendali Inflasi Daerah terus mengantisipasi potensi lonjakan permintaan menjelang libur akhir tahun. Perhatian khusus diperlukan untuk meredam tekanan harga hortikultura pada masa transisi musim.