
Kemensos Siapkan Skema PBI-JK Berbasis Desil
21 menit yang lalu
Tuntutan kenaikan upah di Bangladesh disertai demonstrasi yang mengganggu lalu lintas dan operasi pabrik.
Terbit · 1 min read

Pekerja garmen di Bangladesh menuntut upah minimum bulanan 30.000 taka saat menggelar demonstrasi di Dhaka, Minggu (1/11/2026), menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip Reuters.
Para pekerja meminta upah tersebut dinaikkan dari 12.500 taka saat ini. Laporan itu menyebut tuntutan tersebut setara sekitar Rp4,4 juta.
Pekerja beralasan kenaikan biaya makanan, perumahan, transportasi, dan layanan kesehatan telah mengikis daya beli mereka. Pasukan keamanan menggunakan meriam air untuk membubarkan demonstrasi.
Di Gazipur, pinggiran Dhaka, ratusan pekerja memblokir jalan raya utama dan mengganggu transportasi. Kawasan itu merupakan salah satu pusat industri utama Bangladesh.
Kepala Kepolisian Industri Gazipur Mohammad Amjad Hossain mengatakan demonstrasi membuat pemilik pabrik menutup 25 hingga 30 pabrik. Pihak berwenang juga mengerahkan personel Penjaga Perbatasan Bangladesh untuk menjaga ketertiban.
Menteri Tenaga Kerja dan Ketenagakerjaan Ariful Haque Chowdhury mengatakan dewan upah dibentuk setelah diskusi dengan perwakilan pekerja dan pemimpin industri. Ia mendesak para pekerja kembali bekerja.
Menurut laporan yang sama, protes pada Sabtu (31/10/2026) di Ashulia, pusat produksi garmen di pinggiran Dhaka, juga membuat puluhan pabrik menghentikan operasi.
Chowdhury memperingatkan gangguan berkepanjangan dapat menunda pengiriman ekspor dan pembayaran dari pembeli internasional. Industri garmen Bangladesh mempekerjakan sekitar 4 juta orang dan menghasilkan lebih dari 80 persen pendapatan ekspor negara itu.