
Rezaei Sebut Sikap AS dalam Dialog Berubah
10 menit yang lalu
Perak ditutup di US$49,10 per troy ons setelah turun 6,27 persen pada 30 Oktober 2026.
Terbit · 1 min read

Harga perak dunia turun ke level terendah dalam setahun terakhir pada perdagangan Jumat (30/10/2026). Menurut laporan CNBC Indonesia, penurunan itu terjadi seiring lonjakan harga energi dan kekhawatiran inflasi yang belum mereda.
Mengutip data Refinitiv, perak ditutup pada US$49,10 per troy ons, turun 6,27 persen pada hari itu. Dalam sepekan, harganya terkoreksi 8,89 persen.
Laporan yang sama menyebut pergerakan perak sejalan dengan emas. Kedua logam tersebut dipengaruhi faktor makroekonomi global, antara lain inflasi, suku bunga bank sentral Amerika Serikat, pergerakan dolar AS, dan ketegangan geopolitik.
Lonjakan harga energi dan kekhawatiran inflasi dinilai menekan logam mulia. Kondisi itu memperkuat perkiraan bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama, sehingga mengurangi daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.
Wakil Presiden sekaligus ahli strategi logam senior Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan kekhawatiran inflasi mendorong sejumlah bank sentral mengambil sikap ketat dalam kebijakan moneter. Menurut Grant, kekhawatiran terhadap inflasi membuat sejumlah bank sentral cenderung mengetatkan kebijakan moneter, dikutip dari Refinitiv.
Sejumlah bank sentral utama menahan kenaikan suku bunga pada pekan tersebut, tetapi menegaskan bahwa upaya melawan inflasi belum berakhir. Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa juga menyoroti risiko inflasi yang dipicu kenaikan biaya energi.
Data yang dirilis pada Kamis (29/10/2026) menunjukkan inflasi AS meningkat pada September karena konsumen membayar lebih mahal untuk bensin dan sejumlah barang lain. Kondisi itu memperkuat perkiraan ekonom bahwa Federal Reserve berpotensi kembali menaikkan suku bunga pada Desember.