
AS Pilih Polandia Jadi Lokasi Perawatan Rudal Patriot
10 menit yang lalu
IHSG turun 1,42 persen di awal sesi I, sementara pasar menanti keputusan The Fed dan menyoroti lemahnya lelang SUN.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan sesi I Rabu (28/10/2026). Pada menit kedua setelah pembukaan, indeks berada di level 5.191,55, turun 74,58 poin atau 1,42 persen.
IHSG dibuka di level 5.249,07, lebih rendah dari penutupan perdagangan sebelumnya. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.255,67 pada awal sesi, tetapi tidak bertahan, lalu tekanan jual menyeretnya ke titik terendah 5.190,31.
Volume transaksi tercatat 18,41 juta lot dengan nilai transaksi Rp779,84 miliar. Mengutip data Refinitiv, pelemahan IHSG dibebani sektor infrastruktur yang anjlok 2,4 persen, sektor teknologi yang turun 1,3 persen, dan sektor energi yang turun 0,7 persen.
Saham pemberat IHSG antara lain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA). Adapun saham penekan koreksi antara lain PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS).
Menurut laporan yang sama, pasar keuangan global dan dalam negeri kemungkinan menunggu keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Bank sentral itu dijadwalkan mengumumkannya pada Rabu waktu AS atau Kamis (29/10/2026) pukul 01.00 WIB, dilanjutkan konferensi pers pukul 01.30 WIB.
Konsensus pasar memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75-4,00 persen, setelah menaikkannya 25 basis poin pada September. Perhatian investor tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh tentang prospek inflasi, pasar tenaga kerja, dan kemungkinan pengetatan kebijakan berikutnya.
Dari dalam negeri, minat investor dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) merosot pada Selasa (27/10/2026). Total penawaran masuk hanya Rp31,09 triliun, turun 52,1 persen dari lelang sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak November 2024.
Imbal hasil rata-rata tertimbang yang dimenangkan untuk SUN tenor sekitar 10 tahun naik ke 7,54 persen, tertinggi sejak November 2022. Angka itu naik 30 basis poin dalam dua pekan dan sekitar 147 basis poin dibandingkan awal 2026, sedangkan pemerintah hanya menyerap SUN Rp20,65 triliun, di bawah target indikatif Rp30 triliun.
Dari China, laba industri naik 15,5 persen secara tahunan menjadi CNY 6,03 triliun pada sembilan bulan pertama 2026, sedikit melambat dari pertumbuhan 15,7 persen pada Januari-Agustus 2026. Pertumbuhan ditopang manufaktur berteknologi tinggi, industri terkait kecerdasan buatan, dan peralatan elektronik, sementara permintaan domestik yang lesu membebani sejumlah industri. Laba perusahaan milik negara naik 13,1 persen menjadi CNY 1,94 triliun, perseroan saham gabungan naik 20,8 persen menjadi CNY 4,67 triliun, dan perusahaan swasta naik 8,7 persen menjadi CNY 1,51 triliun.