
Pengisian Bioetanol Reguler Dimulai di Santos
11 menit yang lalu
Jeffrey Hendrik menilai saham syariah memiliki daya tahan lebih baik saat pasar tertekan, antara lain karena tidak memakai fasilitas berbasis bunga.
Terbit · 1 min read

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan saham syariah cenderung memiliki daya tahan lebih baik saat pasar saham Indonesia mengalami tekanan. Menurut laporan ANTARA, ia menyampaikan penilaian itu dalam Capital Market Journalist Workshop 2026 di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
Lokakarya tersebut berlangsung pada Minggu (1/11/2026). Jeffrey menyebut tekanan pasar dipengaruhi sentimen domestik maupun global.
Menurut penjelasan Jeffrey yang dikutip ANTARA, salah satu alasannya adalah indeks saham syariah tidak mencakup saham perbankan konvensional. Ia mengatakan saham perbankan konvensional menjadi saham yang paling tertekan di pasar modal sepanjang 2026.
Jeffrey juga menjelaskan bahwa investor saham syariah bertransaksi tanpa fasilitas berbasis bunga, termasuk fasilitas margin. Karena itu, menurutnya, investor tidak menghadapi risiko permintaan penambahan dana jaminan atau penjualan paksa saham akibat penggunaan fasilitas tersebut.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kapitalisasi pasar Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) mencapai Rp5.658,68 triliun pada Agustus 2026. Pada periode yang sama, kapitalisasi pasar Jakarta Islamic Index (JII) tercatat Rp1.891,89 triliun dan Jakarta Islamic Index 70 (JII70) sebesar Rp2.681,94 triliun.
Kapitalisasi pasar BEI secara keseluruhan tercatat Rp11.449 triliun pada Agustus 2026. Menurut laporan yang sama, Jeffrey menilai data tersebut menunjukkan tersedianya pilihan saham yang luas untuk investasi sesuai prinsip syariah.
OJK juga mencatat 622 saham masuk dalam Daftar Efek Syariah (DES) hingga kuartal ketiga 2026. Selain itu, terdapat tiga saham yang masuk melalui penetapan DES insidentil.