
Schneider Sarankan Kebiasaan untuk Cegah Burnout
9 menit yang lalu
Kekhawatiran soal ekspansi pusat data AI mendorong aksi jual saham teknologi dan mengguncang pasar Asia.
Terbit · 2 min read

Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat memicu kekhawatiran investor mengenai ekspansi kecerdasan buatan (AI). Menurut laporan CNN Indonesia, aksi jual di Wall Street pada Kamis (5/11/2026) menghapus sekitar US$2,5 triliun atau Rp45.365 triliun dari kapitalisasi pasar saham.
Kekhawatiran investor terutama berkaitan dengan kemungkinan pembatasan pembangunan pusat data AI. Salah satu pemicunya adalah kemenangan Demokrat dalam pemilihan gubernur Texas.
Gubernur terpilih Texas Gina Hinojosa sebelumnya mengusulkan moratorium sementara pembangunan pusat data dan penghapusan sejumlah insentif pajak bagi perusahaan yang membangun fasilitas tersebut. Texas menjadi salah satu pusat investasi infrastruktur AI, dengan investasi dari perusahaan seperti Google, Meta, Oracle, dan OpenAI.
Presiden Yardeni Research Ed Yardeni menilai perlambatan pembangunan infrastruktur AI dapat berdampak positif bagi pasar. Ia mengatakan kepada CNN bahwa ekspansi AI terlalu cepat dan spekulatif serta gelembungnya lebih baik mengempis daripada meledak.
Tekanan jual menjatuhkan sejumlah saham teknologi pada Kamis (5/11/2026). Saham Nvidia turun 9,3 persen dan menghapus seluruh kenaikannya sepanjang tahun, sementara indeks saham semikonduktor merosot 12,3 persen, penurunan terburuk dalam sekitar enam setengah tahun.
Saham Tesla turun 11 persen dan SpaceX melemah 9 persen. Saham penyedia komputasi AI CoreWeave dan Nebius masing-masing turun sekitar 10 persen dan 15 persen.
Saham Qualcomm turun 9,5 persen setelah perusahaan melaporkan kinerja di bawah ekspektasi dan menyebut kenaikan biaya cip memori menekan penjualan. Nasdaq merosot 5,52 persen dan memasuki zona koreksi setelah turun lebih dari 10 persen dari rekor tertinggi pada 6 Oktober 2026; S&P 500 dan Dow Jones juga mencatat penurunan harian terburuk sejak April 2025.
Pada Jumat (6/11/2026), tekanan berlanjut di pasar Asia: indeks Kospi Korea Selatan turun hampir 9 persen saat pembukaan sehingga perdagangan dihentikan sementara selama 20 menit. Laporan CNN Indonesia menyebut kekhawatiran investor juga mencakup kemungkinan perusahaan membangun kapasitas komputasi melebihi permintaan; Chief Investment Officer Truist Advisory Services Keith Lerner menilai gejolak pekan itu lebih mencerminkan reaksi spontan investor daripada gambaran pasti prospek saham teknologi di bawah kendali Demokrat di Kongres. Lerner menambahkan bahwa menurut pandangannya, perbandingan risiko dan imbal hasil semakin baik bagi investor jangka panjang.