
Sampoerna Raih Penghargaan Inovasi dan Transformasi
8 menit yang lalu
OCBC memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen pada 2026, dengan permintaan domestik sebagai penopang utama.
Terbit · 2 min read

Chief Economist & Head OCBC Group Research Selena Ling memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen pada 2026. Menurut laporan ANTARA, ia menyampaikan proyeksi itu dalam acara OCBC Outlook - ASEAN Opportunity: Business Growth & Wealth Expansion di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Dalam laporan tersebut, Ling menyebut sebagian besar dukungan pertumbuhan berasal dari permintaan domestik. Ia juga menilai ketahanan permintaan domestik menjadi landasan bagi prospek jangka menengah dengan pertumbuhan di kisaran 5 persen.
Investasi dan konsumsi rumah tangga disebut sebagai pilar utama perekonomian. Laporan ANTARA mencatat pertumbuhan investasi sebesar 6,9 persen secara tahunan pada kuartal II-2026.
Dukungan terhadap momentum itu, menurut laporan yang sama, mencakup belanja infrastruktur, investasi swasta, dukungan fiskal, dan kondisi pasar tenaga kerja yang stabil. Tingkat pengangguran tercatat 4,65 persen pada Mei 2026.
Ling menilai prospek domestik menghadapi risiko eksternal, termasuk volatilitas harga energi akibat konflik geopolitik di Asia Barat dan Timur Tengah serta pengetatan kebijakan moneter sejumlah bank sentral. Ketegangan berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran atau antara Rusia dan Ukraina berpotensi mempertahankan tingginya biaya energi, transportasi, dan logistik, serta menambah tekanan inflasi barang impor.
Ketidakpastian perdagangan global juga membayangi pasar internasional, antara lain karena tarif impor Amerika Serikat dan kemungkinan tarif dagang susulan. Laporan itu menyebut pasar mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin oleh bank sentral AS pada pertemuan Desember 2026.
“Menurut kami, seiring dengan stabilnya harga energi, ada kemungkinan Amerika Serikat akan memasuki masa jeda yang berkepanjangan setelah kenaikan suku bunga di bulan Desember. Namun, mereka akan tetap sangat waspada terhadap tekanan inflasi,” kata Ling, sebagaimana dikutip ANTARA.
Di dalam negeri, inflasi disebut masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia sebesar 1,5-3,5 persen. Namun, gejolak harga pangan yang berkaitan dengan dampak cuaca El Niño dinilai perlu diawasi karena dapat memengaruhi biaya hidup dan keyakinan pelaku usaha.
Untuk menjaga ekspansi ekonomi, Ling menilai kebijakan perlu memprioritaskan ketersediaan pangan, akses pembiayaan bagi sektor produktif, dan percepatan pelaksanaan rencana investasi menjadi kapasitas produksi. Ia juga menyebut peluang di sektor ritel, layanan kesehatan, layanan digital, manufaktur, hilirisasi, logistik, perdagangan dan pembayaran digital, serta pasokan listrik, termasuk energi terbarukan.