
Angkasa Pura Alihkan Saham GMFI ke InJourney
11 menit yang lalu
Panangian menilai hunian sewa terjangkau di kawasan perkotaan dapat menjadi pilihan bagi Gen Z yang belum ingin membeli rumah.
Terbit · 1 min read

Pengamat properti Panangian Simanungkalit menilai sebagian Gen Z lebih memilih menyewa rumah daripada membeli hunian. Menurut laporan CNBC Indonesia, harga rumah yang tinggi dan lokasi hunian terjangkau yang jauh dari pusat aktivitas menjadi alasan pilihan tersebut.
Fenomena itu terutama terlihat pada Gen Z berusia 20-an tahun yang belum menikah. Dalam keterangannya kepada CNBC Indonesia pada Selasa (3/11/2026), Panangian mengatakan, “Fenomena itu benar terjadi dimana kebanyakan sekarang Gen Z, terutama yang 20-an tahun, dia enggak merasa perlu punya rumah,”
Menurut Panangian, sebagian anak muda mempertimbangkan kedekatan tempat tinggal dengan lokasi kerja dan infrastruktur transportasi. Sementara itu, rumah dengan harga relatif terjangkau umumnya berada di pinggiran kota sehingga perjalanan menuju tempat kerja lebih jauh.
Panangian menilai kebutuhan hunian tidak selalu harus dijawab dengan kepemilikan rumah. Ia mendorong pemerintah mengembangkan hunian sewa terjangkau di kawasan perkotaan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan generasi muda.
Ia memberi contoh seseorang dengan gaji Rp5 juta yang dapat menyewa hunian seharga Rp1 juta jika lokasinya dekat dengan transportasi umum. “Harusnya orang Gen Z yang enggak mau di luar kota itu bisa ke sini. Misal gaji Rp5 juta. Ya sudah, sewa Rp1 juta. Pasti mau dia, kan? Asal dekat LRT atau busway,” katanya.
Panangian juga mengusulkan pemanfaatan lahan milik negara yang belum digunakan untuk membangun hunian sewa murah atau rumah susun sederhana sewa. Menurut dia, penggunaan tanah pemerintah dapat menekan biaya karena pengadaan tanah tidak lagi menjadi komponen utama pembangunan.
Ia mengatakan pernah menyampaikan gagasan tersebut langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. “Di tanah-tanah pemerintah, banyak tanah pemerintah yang menganggur di kota. Harusnya begitu dibangun rumah susun,” ujarnya.
Panangian menegaskan, pilihan menyewa tidak berarti kebutuhan memiliki rumah akan hilang. Menurut dia, kebutuhan hunian tetap menjadi pertimbangan ketika seseorang menikah dan memiliki keluarga, sehingga pemerintah perlu menyediakan pilihan yang lebih beragam.