
Pemkot Jakbar Keruk Saluran Air Kampung Ambon
23 menit yang lalu
Pemerintah menimbang agar pengolahan mineral berlanjut dari bahan setengah jadi hingga produk akhir.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan ANTARA, pemerintah sedang mengkaji arah pembangunan smelter berikutnya, termasuk apakah fasilitas baru boleh menghasilkan produk antara atau perlu diarahkan sampai produk akhir. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan hal itu dalam pembukaan Minerba Convex 2026.
Bahlil menyampaikan kajian tersebut saat membuka acara di Jakarta, Senin (2/11/2026). Ia mengatakan sebagian besar produk industri hilirisasi saat ini masih berada pada tahap setengah jadi.
“Saya katakan kepada teman-teman pengusaha, industri hilirisasi kita sekarang masih mayoritas produknya itu baru di tengah, baru di 50-60 persen. (Smelter) ini membludak sekarang,” kata Bahlil, menurut laporan ANTARA.
Bahlil mengatakan pemerintah mempertimbangkan apakah smelter yang hanya menghasilkan produk setengah jadi masih dapat dibangun atau perlu diatur lebih lanjut. Ia menyebut pemerintah ingin mendorong produksi barang akhir agar bahan setengah jadi tidak seluruhnya diekspor.
“Yang perlu kita dorong adalah produk akhirnya, supaya bahan baku setengah jadi tidak semuanya diekspor ke luar. Jadi, Indonesia ini benar-benar mendapatkan manfaatnya secara utuh. Ini yang sekarang kita lagi mau kaji,” ujarnya.
Bahlil membandingkan nilai ekspor nikel Indonesia pada 2017-2019 sebesar 3,3 miliar dolar AS dengan nilai 34 miliar dolar AS setelah pemerintah menghentikan ekspor nikel dan membangun industri pengolahan di dalam negeri. Menurutnya, konsistensi kebijakan menjadi kunci keberhasilan tersebut.
Ia juga mencontohkan ekosistem baterai kendaraan listrik yang terintegrasi dari tambang hingga baterai. Bahlil mengatakan gagasan itu sempat diragukan ketika disampaikan pada 2020, sementara kini Amerika Serikat telah memperoleh bahan baku prekursor dan katoda dari Indonesia.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan tahap berikutnya adalah memperdalam rantai industri menuju produk bernilai tambah lebih tinggi, termasuk bahan antara dan komponen industri baterai. ANTARA juga melaporkan Indonesia telah memiliki tiga pabrik baterai, termasuk pabrik di Karawang, Jawa Barat, yang diresmikan pada 2024.