
Sashenka Raih Perunggu Judo di Youth Olympic Dakar
10 menit yang lalu
Rupiah melemah pada awal perdagangan, sementara penurunan harga minyak belum cukup mendorong penguatannya.
Terbit · 2 min read

Rupiah dibuka melemah 0,03 persen terhadap dolar AS ke posisi Rp18.145 per dolar AS pada awal perdagangan Selasa (3/11/2026). Menurut laporan CNBC Indonesia yang merujuk data Refinitiv, pergerakan itu terjadi setelah rupiah ditutup turun 0,11 persen ke Rp18.140 per dolar AS pada Senin (2/11/2026).
Pada pukul 09.00 WIB, indeks dolar AS atau DXY menguat tipis 0,05 persen ke 101,799. Indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama itu berbalik naik setelah ditutup melemah 0,13 persen pada perdagangan sebelumnya.
Rupiah belum memanfaatkan penurunan harga minyak dunia pada pembukaan perdagangan. Menurut laporan yang sama, penguatan tipis DXY membatasi ruang gerak rupiah, meski dolar berada di sekitar level terendah dalam sebulan.
Harga minyak Brent turun lebih dari 7 persen pada perdagangan Senin, mencatat penurunan harian terdalam dalam beberapa bulan. Laporan CNBC Indonesia menyebut koreksi terjadi setelah Iran menyatakan komunikasi dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung delapan bulan masih berlanjut.
Harapan penyelesaian konflik meredakan kekhawatiran tentang gangguan pasokan energi. Penurunan harga minyak juga membantu mengurangi kekhawatiran inflasi dan menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS, menurut laporan tersebut.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun berada di sekitar 4,9145 persen, sedangkan tenor 30 tahun sebesar 5,2868 persen. Keduanya sebelumnya turun ke posisi terendah dalam hampir dua bulan.
Penurunan imbal hasil mengurangi dukungan bagi dolar dan membuka ruang bagi mata uang lain untuk menguat. Bagi Indonesia, harga energi yang lebih rendah juga berpotensi mengurangi kebutuhan valuta asing untuk membayar impor minyak.
Namun, kehati-hatian investor masih membatasi peluang penguatan rupiah. Laporan CNBC Indonesia menyebut kekhawatiran terhadap saham-saham terkait kecerdasan buatan dan ketidakpastian pemilu sela AS membuat dolar tetap dicari sebagai aset aman. Ahli strategi valuta asing OCBC Sim Moh Siong mengatakan dalam catatannya bahwa harga energi yang lebih murah mengubah dinamika pasar valuta asing, sementara kekhawatiran mengenai kecerdasan buatan dan risiko pemilu AS memperkuat pandangan bahwa dolar AS masih mendapat dukungan.