
Bapanas Sebut Inflasi Pangan Oktober Melandai
11 menit yang lalu
Penarikan dilakukan setelah mandat misi PBB di Sahara Barat berakhir tanpa perpanjangan.
Terbit · 1 min read

Misi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Referendum di Sahara Barat (MINURSO) akan menarik personel penjaga perdamaian dan peralatan secara bertahap. Menurut laporan ANTARA, Juru Bicara PBB Stephane Dujarric menyampaikan hal itu pada Senin (2/11/2026).
Mandat MINURSO berakhir pada Sabtu (31/10/2026), setelah Dewan Keamanan PBB tidak memperpanjang masa tugas misi tersebut. Dujarric menyampaikan keterangan itu dalam konferensi pers di New York.
Dujarric mengatakan tim yang lebih kecil di bawah pengawasan Departemen Dukungan Operasional PBB akan mengurus penutupan dan serah terima 13 lokasi MINURSO. Ia menyebut proses tersebut akan dilakukan secara tertib dan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan.
Menurut laporan yang sama, misi itu akan memulangkan sekitar 160 pengamat militer, memberhentikan 180 personel sipil dan staf terkait lainnya, serta menutup 13 fasilitas operasional.
Dujarric mengatakan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menegaskan berakhirnya kehadiran MINURSO tidak menghapus hak-hak rakyat Sahara Barat. Guterres juga menyerukan semua pihak menghormati dan menjunjung tinggi hak-hak tersebut.
Guterres menyerukan pihak-pihak terkait menahan diri semaksimal mungkin serta menghindari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan dan mengganggu stabilitas kawasan, kata Dujarric.
Sahara Barat sebelumnya merupakan koloni Spanyol. Pada 1975, wilayah itu diserahkan ke bawah kendali Maroko dan Mauritania; setahun kemudian, Front Polisario memproklamasikan Republik Demokratik Arab Sahrawi di wilayah tersebut.
Konflik antara Front Polisario dan pemerintah Maroko berlanjut sejak saat itu. Gencatan senjata tercapai pada 1991 dan diikuti pengerahan misi PBB dengan mandat penjaga perdamaian. Maroko menganggap Sahara Barat bagian dari wilayahnya dan menguasai sekitar 80 persen wilayah, sedangkan Aljazair mendukung penentuan nasib sendiri rakyat Sahara Barat dan Front Polisario, yang menguasai sekitar 20 persen sisanya.