
UMKM Halal Indonesia Hadapi Tantangan Ekspor
14 menit yang lalu
Rupiah dibuka melemah tipis saat investor menanti data inflasi dan perdagangan Indonesia.
Terbit · 1 min read

Nilai tukar rupiah dibuka melemah 2 poin atau 0,01 persen menjadi Rp18.149 per dolar AS pada perdagangan Senin, menurut laporan ANTARA. Pergerakan itu terjadi ketika investor menanti sejumlah data ekonomi domestik.
Laporan ANTARA pada Senin (2/11/2026) menyebut rupiah dibuka pada level tersebut, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.147 per dolar AS. Analis Doo Financial Lukman Leong menyampaikan perkiraannya kepada ANTARA di Jakarta.
Leong memperkirakan rupiah bergerak datar karena pasar menunggu rilis data ekonomi pada siang hari itu, termasuk inflasi dan perdagangan. Inflasi diperkirakan naik dari 3,28 persen menjadi 3,3 persen, sedangkan neraca perdagangan diprediksi surplus 1,9 miliar dolar AS.
Sentimen lain yang disebut dalam laporan adalah penurunan harga minyak dunia, seiring harapan terhadap perundingan damai untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran.
Mengutip Sputnik, laporan ANTARA menyebut Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan pada Sabtu (31/10/2026) bahwa Iran dan Amerika Serikat hanya akan berunding jika Washington menerima tujuh syarat yang diajukan Teheran. Syarat itu disebut berbeda dari ketentuan dalam nota kesepahaman Islamabad.
Rezaei juga menyatakan Iran harus menghukum Amerika Serikat. Menurut dia, jika hal itu tidak dilakukan, negara lain mungkin menganggap mereka dapat melakukan serangan militer serupa terhadap Iran.
Di dalam negeri, sentimen pasar disebut masih lemah di tengah aksi jual bersih investor asing di pasar ekuitas. Menurut Lukman Leong, sepekan sebelumnya investor asing melakukan jual bersih Rp3 triliun di seluruh pasar, sementara mata uang Asia juga dibuka melemah.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS, menurut laporan ANTARA.