
Isyana/Rinjani Tembus Final Indonesia Masters
12 menit yang lalu
Saham Volvo Cars jatuh setelah rugi operasional kuartal ketiga dan rencana pemangkasan 2.500 pekerja.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia, saham produsen mobil asal Swedia Volvo Cars (VOLCARb.ST) anjlok 24 persen pada penutupan perdagangan Jumat (23/10/2026). Penurunan itu terjadi setelah kinerja perusahaan pada kuartal ketiga 2026 dinilai mengecewakan.
Anjloknya saham dipicu kerugian operasional kuartal ketiga yang jauh lebih besar dari perkiraan, penggunaan kas dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya, dan pengumuman tambahan pemangkasan 2.500 pekerja, sebagian besar di Swedia. Harga saham Volvo kini berada di level terendah sepanjang sejarah.
Volvo mencatat kerugian operasional 3,7 miliar krona Swedia atau setara US$373 juta pada kuartal ketiga, berbalik dari laba 5,8 miliar krona pada periode yang sama tahun sebelumnya. Menurut analis Citi, kerugian itu lebih besar dibandingkan konsensus pasar sebesar 724 juta krona. Perusahaan juga menghabiskan kas sekitar 8,9 miliar krona pada kuartal tersebut.
Menurut laporan yang sama, pemangkasan terbaru berdampak pada sekitar 6 persen total tenaga kerja Volvo melalui pengakhiran kontrak konsultan, pengurangan alami jumlah karyawan, dan paket pengunduran diri yang ditargetkan. Langkah ini menambah pengurangan 3.000 pekerjaan yang diumumkan sebelumnya. Kepada Reuters, kepala eksekutif Volvo Hakan Samuelsson menyebut pemangkasan ditargetkan selesai pada pertengahan 2027 dan tidak menutup kemungkinan langkah tambahan.
Samuelsson menyatakan kuartal ketiga sangat mengecewakan dan mencerminkan tahun yang jauh lebih menantang dari perkiraan awal, sehingga rencana pemulihan perlu diperkuat secara tegas. Volvo mengatakan masih perlu memangkas biaya tambahan 5 miliar krona. Samuelsson kembali dari masa pensiun pada 2025 dengan kontrak dua tahun untuk membalikkan kondisi perusahaan.
Volvo, yang mayoritas sahamnya dimiliki Geely Holding dari China, menghadapi permintaan kendaraan listrik yang tidak merata, tekanan tarif yang meningkat, dan pasar China yang sulit. Kesulitan itu mencerminkan tekanan yang lebih luas terhadap produsen mobil Eropa akibat lemahnya permintaan, persaingan dari produsen China, dan kelebihan kapasitas pabrik. Volkswagen, misalnya, berencana memangkas hingga 100.000 pekerja dan berpotensi menutup sejumlah pabrik.
Analis Handelsbanken Hampus Engellau menilai Volvo mungkin membutuhkan tambahan modal bila kondisi ini berlanjut selama dua kuartal lagi. Ia menambahkan bahwa peningkatan produksi SUV listrik EX60 diperkirakan membantu perusahaan, dan Volvo masih memiliki kas lebih dari 30 miliar krona. Namun, EX60 yang menjadi kunci pemulihan mengalami penundaan akibat kendala perakitan baterai, dengan baru sekitar 5.000 unit diproduksi dari target 40.000 unit tahun ini.
Bulan ini Volvo membatalkan proyeksi volume penjualan dan arus kas setahun penuh. Perusahaan menyatakan akan memprioritaskan margin dibandingkan pangsa pasar di China, alih-alih terlibat perang harga, di tengah penurunan pendapatan kuartal ketiga yang disebut hampir 50 persen. Margin kotor turun menjadi 14,7 persen dari 20,4 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Enam dari 13 model yang direncanakan Volvo hingga akhir dekade ini akan dirancang khusus untuk pasar China, dan Samuelsson tidak memperkirakan kinerja di sana membaik sebelum model-model itu dipasarkan. Menurutnya, perusahaan mungkin seharusnya lebih awal menerapkan pendekatan regional di China dan meningkatkan lokalisasi produksi di Amerika Serikat untuk mengantisipasi tarif. Mantan bos Skoda, Klaus Zellmer, yang akan menggantikan Samuelsson tahun depan, menurut analis Bernstein menghadapi pekerjaan yang jauh lebih sulit dibanding saat penunjukannya diumumkan sebulan lalu.