
Dua Truk Militer Jerman Bertabrakan di Polandia
9 menit yang lalu
Diskusi membahas peluang kerja sama Indonesia-Tiongkok dan masukan kebijakan bagi Indonesia.
Terbit · 1 min read

Sino-Nusantara Institute dan The Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC) mengumpulkan masukan dari pakar, akademisi, dan praktisi untuk persiapan APEC 2026 di Tiongkok. Menurut laporan ANTARA, Direktur Sino-Nusantara Institute Ahmad Syaifuddin Zuhri menyampaikan hal itu di Semarang.
Masukan dihimpun melalui diskusi kelompok terarah bertema APEC 2026 Shenzhen dan Masa Depan Indonesia–Tiongkok: Menavigasi Peluang di Tengah Ketidakpastian Global. ANTARA menerbitkan laporan tersebut pada 6 November 2026.
Ahmad mengatakan peserta dipilih berdasarkan kompetensi, pengalaman, dan relevansi keahlian dengan isu yang dibahas. Forum itu dimaksudkan untuk bertukar gagasan, analisis, serta rekomendasi lintas disiplin mengenai dinamika APEC dan kepentingan strategis Indonesia dalam hubungan ekonomi dengan Tiongkok.
Menurut laporan yang sama, APEC 2026 akan berlangsung di Shenzhen, Provinsi Guangdong, pada 18–19 November 2026. Tiongkok disebut akan menjadi tuan rumah untuk ketiga kalinya.
Ahmad mengatakan diskusi tersebut diharapkan menghasilkan masukan kebijakan bagi Indonesia. Isu yang dibahas mencakup transformasi digital, ekonomi hijau, dan kecerdasan buatan.
Ia menilai transformasi digital dapat membuka peluang kerja sama Indonesia-Tiongkok. Ahmad juga menyebut perkembangan teknologi digital di Tiongkok sebagai peluang bagi Indonesia untuk memperkuat kerja sama dalam bidang tersebut.
Ahmad menjelaskan penciptaan bersama sebagai model kerja sama yang mendorong kedua negara menciptakan peluang bersama. Menurutnya, pendekatan itu dapat mencakup pertukaran pengetahuan dan teknologi, bukan hanya menempatkan Indonesia sebagai pasar.
Ia menyebut jumlah pengguna internet Indonesia sebagai salah satu potensi ekonomi digital untuk mendukung kerja sama. Ahmad juga mengatakan birokrasi dan hubungan dengan masyarakat, organisasi lokal, serta pemimpin pemerintahan setempat menjadi tantangan investasi di Indonesia. ANTARA melaporkan bahwa ia merujuk pada temuan beberapa riset.