
KP2MI Fasilitasi Seleksi Pekerja Hotel Turkiye
11 menit yang lalu
Pertemuan bilateral membahas perdagangan pangan, investasi hijau, pengelolaan sampah, dan konservasi.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNN Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan membahas peluang kerja sama perdagangan pangan dan ekonomi hijau dengan pejabat Uzbekistan dalam rangkaian pertemuan bilateral di Uzbekistan.
Pertemuan dengan Wakil Perdana Menteri Uzbekistan Bidang Investasi, Industri dan Perdagangan Jamshid Khodjaev berlangsung pada Kamis (29/10/2026). Sehari kemudian, Zulhas bertemu Aziz Abdukhakimov, Ketua Komite Nasional Ekologi dan Perubahan Iklim Uzbekistan yang juga Penasihat Presiden Bidang Lingkungan Hidup.
Dalam pertemuan dengan Khodjaev, Zulhas menyampaikan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada delapan komoditas pangan dan tidak lagi mengimpor beras sejak 2025. Ia juga menyebut produksi beras naik 13,54 persen dan jagung 9,34 persen.
Menurut laporan yang sama, cadangan beras pemerintah tercatat 4.579.788 ton, jumlah tertinggi sepanjang sejarah. Zulhas optimistis cadangan tersebut menjadi modal untuk memperluas kerja sama perdagangan dan investasi. Kedua pihak membahas perdagangan produk pertanian, termasuk kemungkinan pasokan buah kering dari Uzbekistan ke Indonesia dengan memenuhi persyaratan keamanan pangan.
Penguatan hubungan ekonomi turut dibahas melalui Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia-Uzbekistan (IU-FTA), yang diluncurkan pada 2 Maret 2026. Zulhas dan Khodjaev juga sepakat membentuk Komite Bersama Antarpemerintah Indonesia-Uzbekistan untuk menindaklanjuti hasil pertemuan dan mengawal kerja sama.
Zulhas menyatakan Indonesia menyambut rencana pembukaan penerbangan langsung Tashkent-Jakarta untuk memperkuat konektivitas pariwisata dan bisnis. Rencana itu diharapkan mendekatkan masyarakat serta pelaku usaha kedua negara.
Dalam pertemuan dengan Abdukhakimov, kedua pihak membahas pembangunan berkelanjutan, transformasi hijau, dan pengelolaan lingkungan. Indonesia juga menyatakan mendorong aksi iklim melalui forum Perserikatan Bangsa-Bangsa dan COP31, yang akan berlangsung di Antalya, Turkiye.
Indonesia membuka peluang investasi hijau melalui Nilai Ekonomi Karbon di enam sektor: kehutanan dan penggunaan lahan, energi, limbah, industri, pertanian, dan kelautan. Pengolahan sampah menjadi energi menjadi salah satu bidang dalam pembahasan kerja sama; Uzbekistan menargetkan 11 fasilitas dalam tiga tahun ke depan, sedangkan Indonesia menargetkan sekurangnya 18 fasilitas beroperasi hingga akhir 2029.
Indonesia juga membagikan pengalaman rehabilitasi sekitar 2 juta hektare lahan kritis selama 2015-2025, termasuk 90.000 hektare mangrove. Pemerintah menetapkan sekitar 579 kawasan konservasi seluas 27 juta hektare, termasuk 48 taman nasional, untuk melindungi keanekaragaman hayati; Zulhas menyebut peluang kerja sama mencakup pengelolaan sampah, konservasi, dan pertanian berkelanjutan.