
Yuliana Winata, Ibunda Tomy Winata, Wafat
15 menit yang lalu
Forum mempertemukan penyedia layanan wisata premium dengan mitra untuk mengembangkan pasar wisata domestik.
Terbit · 1 min read

Kementerian Pariwisata menggelar Pertemuan Bisnis Premium Nusantara untuk mengoptimalkan potensi wisatawan domestik berdaya beli tinggi. Menurut laporan ANTARA, Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini menyatakan fokusnya meningkatkan nilai belanja wisatawan nusantara per perjalanan.
Forum tersebut berlangsung di Hotel Majapahit, Surabaya, pada Rabu (28/10). Kemenpar mempertemukan 12 penyedia layanan pariwisata premium dengan agen perjalanan, layanan pramutamu mewah, perbankan prioritas, serta perencana korporat.
Ni Made Ayu Marthini menjelaskan wisatawan berdaya beli tinggi mengutamakan kenyamanan dan pengalaman perjalanan eksklusif. Forum itu dirancang untuk menangkap peluang dari besarnya pasar wisatawan Indonesia yang bepergian ke luar negeri.
Data BPS tahun 2025 mencatat 9,16 juta perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri. Rata-rata pengeluaran per perjalanan mencapai 1.875 dolar AS atau Rp33,95 juta, dan lebih dari 50 persen perjalanan bertujuan untuk berlibur.
Menurut laporan yang sama, Surabaya dipilih sebagai tuan rumah dengan mempertimbangkan pertumbuhan ekonominya yang mencapai 5,87 persen pada 2025, melampaui rata-rata nasional. Kota itu juga memiliki Bandara Internasional Juanda sebagai pintu gerbang perjalanan menuju berbagai destinasi di Nusantara.
Dua belas penyedia layanan, termasuk resor mewah, operator kapal pinisi, dan penyedia pengalaman kuliner premium, memperkenalkan produk yang berfokus pada bahari, kebugaran, dan kuliner. Penawaran mereka mengedepankan keistimewaan, keaslian budaya, serta privasi.
Ni Made Ayu Marthini mengatakan segmen wisata mewah berpotensi meningkatkan kontribusi ekonomi lokal dan mendukung kampanye wisata di Indonesia. Dalam sesi temu bisnis eksklusif, forum itu diharapkan menghasilkan penawaran harga, pemesanan langsung, dan kemitraan berkelanjutan.
Wisata mewah kini mengalami perubahan makna: kemewahan bukan hanya fasilitas megah, tetapi juga pengalaman personal, privasi, serta keterikatan dengan budaya dan ekonomi lokal. Menurut laporan ANTARA, Made optimistis forum itu tidak hanya melahirkan transaksi konkret dan kemitraan jangka panjang, tetapi juga mengukuhkan persepsi bahwa pengalaman wisata kelas dunia dapat dinikmati di dalam negeri.