
Jepang, Korsel, dan BNPB Imbau Siapkan Tas Darurat
12 menit yang lalu
Makan terlalu cepat dapat membuat tubuh terlambat merespons rasa kenyang dan berisiko mendorong asupan berlebih.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan CNN Indonesia, kebiasaan makan cepat dikaitkan dengan kemungkinan lebih tinggi mengalami sindrom metabolik dibandingkan kebiasaan makan lebih lambat. Sindrom metabolik mencakup sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2.
Sindrom metabolik yang dijelaskan di dalam laporan meliputi lingkar perut berlebih, tekanan darah tinggi, gangguan kadar gula darah, dan kelainan kadar lemak dalam darah.
Salah satu penjelasan yang disampaikan adalah tubuh memerlukan waktu untuk mengenali sinyal kenyang. Jika seseorang makan terlalu cepat, asupan dapat terus bertambah sebelum tubuh memberi sinyal bahwa jumlahnya sudah cukup.
Laporan yang sama membahas proses mengunyah sebagai bagian dari respons tubuh terhadap makanan. Selain menghancurkan makanan, aktivitas itu memberi rangsangan sensorik di mulut yang terlibat dalam respons pencernaan.
Sebelum ditelan, makanan dipecah oleh gigi menjadi bagian lebih kecil dan bercampur dengan air liur hingga membentuk bolus. Air liur mengandung enzim, termasuk amilase saliva, yang mulai memecah pati atau karbohidrat kompleks.
Laporan tersebut merujuk kajian sistematis dan meta-analisis tentang pengaruh mengunyah terhadap nafsu makan, asupan makanan, dan hormon usus. Eksperimen yang ditinjau di dalamnya mencakup temuan bahwa mengunyah dapat membantu mengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi.
Namun, bukti mengenai hubungan kurang mengunyah dengan gangguan pencernaan disebut masih terbatas dan belum dapat dipastikan berlaku pada setiap orang. Laporan itu menyarankan agar tekstur makanan diperhatikan sebelum ditelan dan makan dilakukan dengan perlahan.