
Fun Run 5K Tutup GMIM Cup 2026
13 menit yang lalu
Program BIPA, pertukaran akademisi dan mahasiswa, serta penerjemahan sastra didorong untuk memperluas peran Bahasa Indonesia.
Terbit · 2 min read

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat mendorong internasionalisasi Bahasa Indonesia di Rusia melalui program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), pertukaran akademisi dan mahasiswa, serta penerjemahan karya sastra. Menurut laporan ANTARA, Atip menyampaikan hal itu saat membuka Kongres ke-2 Bahasa Indonesia di HSE University.
Kongres yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Moskow itu digelar dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda. Keterangan dari KBRI Moskow mengenai pernyataan Atip diterima di Jakarta pada Sabtu.
Menurut laporan yang sama, Atip menyampaikan bahwa Bahasa Indonesia telah menjadi salah satu dari 10 bahasa resmi Sidang Umum UNESCO sejak 20 November 2023. Capaian itu menjadi awal bagi penggunaan Bahasa Indonesia yang lebih luas di forum internasional, pendidikan, publikasi akademik, perdagangan, dan pariwisata.
Menurut laporan yang sama, Atip menyatakan penginternasionalan Bahasa Indonesia bukan hanya untuk menambah jumlah orang yang mempelajarinya. Upaya itu juga bertujuan meningkatkan fungsi, martabat, dan kegunaan bahasa tersebut di masyarakat global.
Atip menilai Rusia memiliki posisi strategis karena tradisi akademiknya dalam kajian bahasa, sastra, dan budaya. Ia mendorong perluasan kerja sama Indonesia-Rusia untuk mendukung penginternasionalan Bahasa Indonesia.
Duta Besar RI untuk Federasi Rusia Jose Tavares, yang hadir dalam kongres, menyebut Bahasa Indonesia telah diajarkan di Universitas Negeri Moskow sejak akhir 1950-an. Di HSE University, bahasa tersebut menjadi salah satu dari dua bahasa timur utama yang dipelajari selama lima tahun penuh.
Menurut laporan yang sama, KBRI Moskow berupaya memperluas penggunaan Bahasa Indonesia melalui penguatan pengajaran, pembangunan Rumah Nusantara, kerja sama dengan perguruan tinggi, penyediaan forum ilmiah, serta kegiatan budaya. Kelas BIPA di KBRI Moskow dibuka kembali pada Juli 2025 dan kini diikuti 149 pelajar, menurut catatan KBRI.
Jose mengakui keterbatasan jumlah pengajar dan bahan ajar khusus membuat program belum selalu berkesinambungan. Ia berharap kongres tersebut dapat membangun jejaring Indonesianis di Rusia dan Belarus serta mendorong lebih banyak kampus membuka kelas Bahasa Indonesia. Jose juga mengatakan, “Sembilan puluh delapan tahun lalu, Bahasa Indonesia menyatukan sebuah bangsa. Hari ini, saya yakin Bahasa Indonesia juga mampu menyatukan hati antarbangsa, termasuk rakyat Indonesia, Rusia, dan Belarus,”.