
Kementerian PU Salurkan 104 Ribu Liter Air di Samarinda
11 menit yang lalu
Kegiatan di desa dan universitas memperkenalkan seni tradisional Shanxi kepada delegasi pemuda Indonesia.
Terbit · 1 min read

Delegasi pemuda Indonesia mengikuti kegiatan untuk mengenal warisan budaya takbenda (WBTB) di Provinsi Shanxi, China utara. Menurut laporan ANTARA yang bersumber dari Xinhua, rangkaian kegiatan itu mencakup praktik kerajinan dan seni tradisional serta pertukaran budaya.
Kegiatan berlangsung di Desa Liujiaobao, Kota Taiyuan, dan Universitas Normal Taiyuan. Laporan tersebut tidak menyebutkan tanggal pelaksanaannya.
Di Desa Liujiaobao, para delegasi mengunjungi sanggar WBTB. Desa itu menerapkan model yang mengangkat satu warisan budaya dan tema budaya di setiap halaman, dengan lebih dari 100 jenis WBTB ditampung di rumah warga yang telah direvitalisasi.
Para peserta mencoba membuat tembikar menggunakan tanah loes lokal dengan bimbingan pewaris kerajinan. Mereka mempelajari pengolahan tanah liat dan teknik pembentukan bejana, serta mengenal keramik berglasir hitam.
Di Meiyi Lacquer Workshop, delegasi mempelajari tatahan pernis emas, yang disebut sebagai WBTB tingkat provinsi di Shanxi. Mereka juga mencicipi cuka tua Shanxi dan mencoba teknik membentuk motif dengan warna di permukaan air untuk membuat tas.
Di Universitas Normal Taiyuan, rombongan mengikuti pertukaran budaya yang dibuka dengan pertunjukan gong dan genderang. Para delegasi kemudian mencoba memainkan simbal tembaga mengikuti irama kelompok Gong dan Genderang Xingzhi.
Rangkaian kegiatan di kampus juga mencakup pertunjukan musik rakyat dengan alat musik pipa, erhu, ruan, dan dizi. Dalam kelas melukis, peserta membuat lukisan tinta bunga magnolia dengan arahan instruktur.
Yen Yen Kuswati, pengurus bidang pemuda Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok, menilai budaya China memiliki makna bagi komunitas etnis Tionghoa di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa pertukaran WBTB terasa menyentuh karena budaya Tiongkok telah menjadi bagian dari keberagaman Indonesia melalui pewarisan lintas generasi.
Dicky Larson, pendiri Link Education Group, mengusulkan penguatan kerja sama sekolah, termasuk pertukaran pelajar dan guru serta berbagi sumber daya pendidikan. Ia juga mengharapkan lebih banyak kegiatan budaya yang melibatkan kaum muda untuk memperkuat pemahaman bersama.