
QatarEnergy Teken Perjanjian LNG dengan Cheniere
12 menit yang lalu
Raja Abdullah II memerintahkan aparat bertindak tegas setelah serangan di gereja Karak menewaskan sembilan orang.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNN Indonesia, Raja Yordania Abdullah II memerintahkan pasukan keamanan merespons dengan tindakan tegas setelah serangan bersenjata di sebuah gereja menewaskan sembilan orang dan melukai 40 lainnya.
Serangan itu terjadi saat prosesi pemakaman berlangsung di Gereja Ortodoks Yunani Santo George, Gubernuran Karak, Jumat (23/10/2026). Gereja tersebut berjarak sekitar 120 kilometer di barat daya ibu kota Amman.
Menurut laporan yang sama, Abdullah memerintahkan aparat bertindak sangat keras, sementara otoritas setempat masih memburu para pelaku penembakan. Insiden ini tergolong langka di Yordania, negara Timur Tengah yang relatif stabil dan memiliki komunitas Kristen sebagai kelompok minoritas.
Istana kerajaan, seperti dikutip dari Reuters, menyatakan Abdullah mengecam serangan itu sebagai tindakan teroris yang tercela saat memimpin rapat Dewan Keamanan Nasional pada Sabtu (24/10/2026). Ia menegaskan tidak boleh ada kelonggaran dalam menangani ancaman terhadap nyawa warga Yordania. Kedutaan Besar Amerika Serikat di Amman menyatakan pengamanan ditingkatkan di sejumlah lokasi, termasuk pusat perbelanjaan dan kedutaan asing.
Pastor Theodoros Soueiss menceritakan suasana mencekam di dalam gereja saat para pelaku melepaskan tembakan. Ia mengatakan dirinya bersama orang-orang di gereja meminta jemaat segera tiarap. Menurut dia, rasa panik menyelimuti jemaat karena tembakan dilepaskan secara membabi buta dan arah jatuhnya peluru tidak bisa diketahui.
Para pelaku dilaporkan menembak selama beberapa menit pada siang hari hingga menimbulkan korban jiwa dan puluhan orang terluka. Tarek Ammarin, yang memiliki kerabat terluka dan berada di rumah sakit tempat para korban dirawat, menyebut kejadian itu sebagai pembantaian dalam setiap makna kata.
Hingga Sabtu, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Otoritas Yordania menyatakan masih terlalu dini untuk memastikan apakah para pelaku terkait kelompok tertentu, di dalam maupun di luar negeri. Aparat keamanan negara itu menyatakan telah menggagalkan sejumlah rencana serangan yang melibatkan kelompok Islamis dalam beberapa tahun terakhir.
Wali Kota Desa Shihan di Karak, Bahjat al-Rushda, turut mengecam insiden itu dan menyebutnya aksi teroris ekstremis. Ia berharap keamanan negara tetap terjaga.
Menurut laporan tersebut, Yordania merupakan salah satu mitra utama Amerika Serikat dalam upaya memerangi kelompok militan di Timur Tengah. Negara itu juga menjadi salah satu sekutu Washington di kawasan yang terdampak serangan Iran tahun ini, setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada Februari. Yordania memiliki sejumlah situs bersejarah Alkitab yang menjadi tujuan ziarah umat Kristen dari berbagai negara.