
Rutan Salemba Gagalkan Penyelundupan 65 Kartrid
17 menit yang lalu
Para mualaf menyebut keyakinan, pencarian jati diri, dan dukungan komunitas sebagai bagian dari pengalaman mereka.
Terbit · 1 min read

Sekitar 45.000 etnis Korea yang lahir dan besar di Korea Selatan diperkirakan telah memeluk Islam, menurut laporan CNBC Indonesia. Alasan mereka beragam, mulai dari pencarian spiritual hingga keinginan menjalani kehidupan yang berbeda dari tekanan sosial.
Di Masjid Pusat Seoul, kawasan Itaewon, sekitar lima hingga 25 orang mengikuti pelatihan dasar Islam setiap bulan. Setelah pembelajaran, peserta dapat mengucapkan syahadat untuk menjadi Muslim.
Yusuf, pria Korea berusia 30-an yang memeluk Islam pada 2014, mengatakan sebagian pria tertarik karena berharap lebih mudah menemukan pasangan hidup. Kepada Korea Times, ia menyebut kekecewaan terhadap budaya berkencan yang kompetitif, terutama di Seoul, sebagai salah satu latar belakang ketertarikannya.
Laporan CNBC Indonesia menyebut sebagian besar peserta pelatihan di masjid itu adalah laki-laki. Perempuan yang memeluk Islam juga tertarik pada kesederhanaan ajarannya dan konsep ketuhanan yang esa.
Areum, perempuan Korea berusia 30-an, menilai beberapa nilai Islam selaras dengan budaya asalnya, termasuk penghormatan kepada orang yang lebih tua. Menurut laporannya, kesamaan itu memudahkannya menjelaskan keputusan berpindah agama kepada orang tuanya; kunjungan pertamanya ke masjid di Seoul juga membuatnya merasa seperti pulang ke rumah.
Sebagian warga Korea yang mempelajari Islam berusia 20-an hingga 30-an, menurut perwakilan Masjid Pusat Seoul. Bagi sejumlah anak muda, tekanan sosial, budaya berkencan, dan tuntutan kehidupan arus utama menjadi hal yang membebani.
Islam telah dikenal di Korea melalui kedatangan pedagang dan pekerja Muslim, meski komunitas Muslim lokal tidak berkembang secara berkelanjutan. Gelombang baru perpindahan agama muncul pada era modern, termasuk setelah Perang Korea 1950-1953 ketika pasukan Turki turut memperkenalkan Islam kepada warga setempat.
Media sosial kini turut memperkenalkan Islam melalui influencer mualaf, termasuk Ayana Jihye Moon dan Daud Kim. Sebagian mualaf menghadapi diskriminasi atau pengucilan, tetapi menurut laporan yang sama, komunitas Muslim menjadi sumber dukungan bagi mereka. Yusuf, misalnya, mulai mengenal Islam setelah bertemu teman-teman Muslim di sebuah klub bahasa Inggris.
Download the Hive app for live alerts and offline reading.