
Rezaei Sebut Sikap AS dalam Dialog Berubah
10 menit yang lalu
Bentrokan mewarnai demonstrasi biaya hidup di Prancis, sementara polisi menangkap 565 orang.
Terbit · 2 min read

Bentrokan terjadi di Paris dan sejumlah kota lain di Prancis saat demonstrasi memprotes kenaikan biaya hidup pada Sabtu (31/10/2026). Menurut laporan CNN Indonesia, Kementerian Dalam Negeri Prancis menyatakan polisi menangkap 565 orang di seluruh negeri pada Sabtu malam.
Kericuhan berlangsung setelah ratusan ribu orang, banyak di antaranya mengenakan kostum Halloween, mengikuti aksi. Pawai berlangsung di pinggiran Paris, dan bentrokan terjadi saat massa tiba di tujuan akhirnya.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menyatakan aksi secara keseluruhan berlangsung tertib, tetapi mengecam kekerasan yang terjadi. Ia menuduh kelompok ekstremis sayap kiri bertanggung jawab atas serangan terhadap aparat; tuduhan itu merupakan pernyataan Nunez.
Kementerian Dalam Negeri menyebut empat polisi dan seorang anggota polisi militer terluka di Paris. Tiga petugas mengalami luka bakar akibat bom molotov, sedangkan petugas polisi antihuru-hara yang menjadi sasaran lemparan bom molotov dilaporkan mengalami luka ringan.
Menurut laporan AFP, puluhan orang bertopeng dan berpakaian hitam menggunakan palu untuk mencungkil batu trotoar dan melemparkannya ke arah polisi. Polisi merespons dengan gas air mata dan beberapa kali menggunakan tongkat, sementara Kepolisian Paris menyatakan aparat diserang dengan berbagai proyektil.
Kericuhan juga dilaporkan terjadi di sejumlah kota lain. Di Lyon, massa melemparkan benda ke arah polisi dan petugas merespons dengan gas air mata; di Toulouse, polisi menggunakan meriam air untuk membubarkan demonstrasi tanpa izin yang diikuti beberapa ribu orang.
Kementerian Dalam Negeri menyatakan kelompok yang disebutnya sebagai elemen radikal berupaya memasuki pusat kota Bordeaux, Toulouse, dan Marseille untuk melakukan vandalisme dan penjarahan. Jam malam dijadwalkan berlaku di kawasan République dan Châtelet-Les Halles, Paris, pukul 23.00 hingga 06.00 pada Sabtu (31/10/2026) dan Minggu (1/11/2026).
Demonstrasi berlangsung pada akhir pekan ketiga aksi protes yang awalnya menyoroti kenaikan biaya hidup, ketimpangan, dan memburuknya sarana pendidikan. Aksi berlangsung kurang dari enam bulan sebelum pemilihan presiden, sementara Marine Le Pen memimpin jajak pendapat, menurut laporan CNN Indonesia. Gerakan yang melibatkan aktivis rompi kuning, serikat pekerja, pelajar sekolah menengah, serta mahasiswa itu kemudian memperluas tuntutan, termasuk perlindungan kebebasan sipil dan hak berunjuk rasa.