
Amran Dorong Ekosistem Jagung untuk Peternak
17 menit yang lalu
Pembelajaran mulai tahun ajaran 2027/2028 menekankan komunikasi, dengan penyiapan guru secara bertahap.
Terbit · 1 min read

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan pembelajaran Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar (SD) ditujukan untuk membekali murid kemampuan berkomunikasi dan membuka akses terhadap ilmu pengetahuan serta kesempatan global. Menurut laporan ANTARA, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menyampaikan tujuan tersebut dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Sabtu (7/11/2026).
Pembelajaran untuk murid kelas 3 akan dimulai pada tahun ajaran 2027/2028. Atip mengatakan pendekatannya lebih mengutamakan keterampilan berkomunikasi dan kepercayaan diri daripada penguasaan tata bahasa.
“Tujuan kami sederhana, yaitu agar anak-anak mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris dan menggunakannya sebagai jendela untuk mengenal dunia, ilmu pengetahuan, dan berbagai kesempatan,” kata Atip, menurut laporan ANTARA.
Dalam pembelajaran kelas 3, murid akan lebih banyak berlatih menyimak dan berbicara melalui lagu serta permainan. Atip menjelaskan pendekatan itu dipilih agar murid mendapat pengalaman menggunakan bahasa secara langsung sejak dini.
Untuk mendukung penerapan kebijakan, Kemendikdasmen menargetkan menyiapkan sekitar 10 ribu guru SD pada tahun ini melalui program nasional yang melibatkan perguruan tinggi. Menurut laporan yang sama, penyiapan tersebut dilakukan bertahap untuk memenuhi kebutuhan sekitar 150 ribu guru Bahasa Inggris, dengan sasaran satu guru untuk setiap sekolah.
Kemendikdasmen juga bekerja sama dengan dinas pendidikan kabupaten untuk memetakan kebutuhan guru dan menyesuaikan penempatan dengan kondisi tiap daerah. Sekitar 58 ribu SD dijadwalkan mulai menerapkan pembelajaran Bahasa Inggris pada tahun ajaran 2027/2028.
Atip mengatakan keberhasilan kebijakan tidak cukup diukur dari penerbitan regulasi, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan murid, termasuk yang tinggal di wilayah terpencil. Ia menyebut kebijakan baru benar-benar terlaksana ketika murid dapat menggunakan Bahasa Inggris tanpa rasa takut.
Ia menegaskan penguatan Bahasa Inggris tidak boleh mengesampingkan identitas kebangsaan dan kekayaan bahasa daerah. Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa persatuan, sementara bahasa daerah perlu dihargai, terutama pada tahun-tahun awal pendidikan.