
Changhong Buka Gerai Perdana di Palembang
12 menit yang lalu
Sistem lintas kementerian ini dimulai di Jawa-Bali untuk membantu mencegah dan menangani penyakit secara dini.
Terbit · 1 min read

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Kementerian Pertanian (Kementan) mengaktifkan Sistem Informasi Zoonosis dan Emerging Infectious Diseases (SIZE) dengan tahap awal di Jawa-Bali. Menurut laporan ANTARA, Deputi Bidang Koordinasi, Peningkatan Kualitas Kesehatan Kemenko PMK Sukadiono menyampaikan hal itu setelah aktivasi sistem di Yogyakarta, Selasa (27/10/2026).
SIZE mengintegrasikan data penyakit sektoral, peringatan kejadian penyakit, pencatatan respons, serta analisis zoonosis dan penyakit infeksius baru.
Sukadiono mengatakan sistem tersebut ditujukan untuk mengantisipasi penyakit akibat zoonosis. Ia menjelaskan, penanganan penyakit tidak hanya menjadi tanggung jawab satu kementerian atau lembaga, sehingga pencegahan dan penanganan dini perlu dilakukan bersama.
Menurut laporan yang sama, Permenko PMK Nomor 7 Tahun 2022 memuat daftar penyakit yang wajib dilaporkan. Zoonosis yang disebut antara lain rabies, flu burung, antraks, dan leptospirosis; penyakit infeksius baru yang tercantum antara lain Nipah, ebola, MERS-Cov, SARS, dan COVID-19.
Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas dan Ketahanan Kesehatan Kemenko PMK Nancy Dian Anggraeni mengatakan Jawa-Bali dipilih karena kepadatan penduduknya tinggi. Menurut keterangan Nancy yang dikutip ANTARA, 60 persen penduduk Indonesia berada di Jawa-Bali.
Nancy juga menyebut infrastruktur teknologi informasi dan internet di wilayah tersebut lebih baik dan kuat dibandingkan daerah lain. Ia mengatakan mobilitas penduduk dan hewan dapat memengaruhi risiko penyakit yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa atau wabah.
Nancy mencontohkan lalu lintas ternak antara Bali dan Jawa dalam kaitannya dengan risiko antraks pada sapi. Menurutnya, penularan berisiko lebih tinggi ketika penyakit menjangkau populasi yang padat dan mobilitasnya tinggi.
Kemenko PMK memilih Jawa-Bali sebagai sasaran awal aktivasi SIZE berdasarkan pertimbangan potensi ancaman dan mobilitas tersebut. Nancy mengatakan tahap selanjutnya akan menyasar daerah lain yang berdasarkan data memiliki potensi penyakit infeksi baru.