
Veda Ega Lolos Langsung ke Q2 Moto3 Malaysia
14 menit yang lalu
Blok Netanyahu memperoleh 53 kursi, tetapi pembentukan pemerintahan bergantung pada negosiasi koalisi.
Terbit · 1 min read

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu unggul dalam pemilu, tetapi blok politiknya gagal meraih mayoritas untuk membentuk pemerintahan. Menurut laporan CNNIndonesia.com, hasil pemilu juga menempatkan partai-partai Arab dalam posisi berpotensi menentukan arah koalisi.
Pemungutan suara berlangsung pada Selasa (27/10/2026) di Israel. Hingga Kamis (29/10/2026), lebih dari 99 persen suara telah dihitung, tetapi tidak ada blok yang mencapai ambang 61 kursi di parlemen, Knesset.
Blok Netanyahu memperoleh 53 kursi, sedangkan blok yang dipimpin mantan panglima militer Gadi Eisenkot mendapat 48 kursi. Partai-partai Arab memperoleh 19 kursi, jumlah yang menurut laporan tersebut belum pernah dicapai sebelumnya.
Hasil itu membuat peluang Netanyahu kembali memimpin bergantung pada kemampuannya merundingkan koalisi. CNNIndonesia.com melaporkan bahwa partai-partai Arab berpotensi memainkan peran penting dalam pembentukan pemerintahan berikutnya.
Aviv Bushinsky, mantan penasihat Netanyahu, menilai hasil tersebut tetap menunjukkan keberhasilan politik sang petahana meski tidak memperoleh mayoritas. Ia mengatakan, “Mungkin sulit untuk mengatakannya atau melihatnya, tetapi dialah pemenangnya,” seperti dikutip CNNIndonesia.com.
Analis regional dan mantan perwira intelijen militer Israel Danny Citrinowicz menilai Netanyahu bertahan secara politik meski kehilangan sejumlah kursi. “Dia (Netanyahu) menang karena tidak kalah,” katanya, seperti dilaporkan Reuters dalam laporan yang dikutip CNNIndonesia.com.
Netanyahu akan tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara sampai Presiden Israel menentukan pihak yang mendapat mandat membentuk pemerintahan baru. Menurut laporan CNNIndonesia.com, posisi itu memberinya keuntungan dalam proses perundingan koalisi.
Oposisi menghadapi tantangan membentuk pemerintahan tanpa dukungan partai-partai Arab. Kerja sama itu juga dapat ditolak calon mitra dari sayap kanan, sementara para analis melihat pemerintahan persatuan nasional atau pemilu ulang sebagai kemungkinan.
Bushinsky menilai pemerintahan persatuan nasional sebagai pilihan realistis, sedangkan Citrinowicz mengatakan kebuntuan dapat menguntungkan Netanyahu. Pemilu ini merupakan yang pertama sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan dimulainya operasi militer Israel di Jalur Gaza, menurut laporan CNNIndonesia.com.