
Tim SAR Evakuasi Korban Helikopter di Seruyan
16 menit yang lalu
Aksi di Santiago dipicu kebijakan pengurangan masa hukuman dan berujung bentrokan dengan polisi.
Terbit · 1 min read

Bentrokan antara para pelajar dan polisi terjadi dalam unjuk rasa yang menuntut Menteri Kehakiman Chile Fernando Rabat mundur. Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip Reuters dan AFP, protes berlangsung di Santiago.
Aksi tersebut digelar pada Kamis (5/11/2026) untuk memprotes kebijakan pemerintahan Presiden Jose Antonio Kast. Bahan sumber tidak merinci lokasi demonstrasi lebih jauh dari Santiago.
Protes dipicu kebijakan pengurangan masa hukuman bagi narapidana kasus kekerasan seksual, pemerkosaan terhadap anak, serta pelanggaran hak asasi manusia, menurut laporan yang sama.
Dalam aksi itu, sejumlah demonstran melemparkan bom molotov dan benda lain ke arah polisi. Polisi membalas dengan meriam air dan gas air mata, sementara beberapa demonstran ditahan.
Rabat membela keputusan pengurangan hukuman tersebut. Ia menyatakan kebijakan itu sesuai dengan hukum dan penafsiran yang didukung Mahkamah Agung.
Carmen Soto, seorang juru masak berusia 42 tahun, menyampaikan penolakan terhadap pembebasan pelaku kekerasan seksual dan menyerukan agar mereka dipisahkan dari masyarakat. Menurut laporan yang sama, Soto juga mengatakan dirinya marah karena banyak orang pernah mengalami suatu bentuk kekerasan.
Lembaga survei Cadem mencatat tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Kast turun menjadi 26 persen, angka terendah yang disebut dalam laporan tersebut. Kast mengakui negara telah gagal melindungi para korban.