
OJK Denda Dua Pihak Rp10 Miliar dalam Kasus FILM
13 menit yang lalu
Komite bersama akan mengawal kerja sama pangan, perdagangan, investasi, dan lingkungan kedua negara.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, Indonesia dan Uzbekistan sepakat membentuk komite bersama antarpemerintah untuk memperkuat kerja sama ketahanan pangan, perdagangan, dan investasi. Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan Wakil Perdana Menteri Uzbekistan Bidang Investasi, Industri, dan Perdagangan Jamshid Khodjaev.
Pertemuan berlangsung di Tashkent, Uzbekistan, pada 29 Oktober 2026. Komite bersama Indonesia-Uzbekistan direncanakan menjadi mekanisme untuk menindaklanjuti hasil pertemuan bilateral dan mengarahkan pengembangan kerja sama.
Zulkifli mengatakan capaian swasembada Indonesia dapat menjadi pijakan untuk memperluas pasar produk Indonesia dan membuka peluang investasi yang bermanfaat bagi kedua negara. Dalam pertemuan itu, kedua pihak juga membahas peningkatan perdagangan produk pertanian, termasuk potensi pasokan buah kering dari Uzbekistan dengan tetap memenuhi persyaratan keamanan pangan.
Zulkifli memaparkan perkembangan ketahanan pangan nasional, termasuk swasembada delapan komoditas, peningkatan produksi beras dan jagung, serta penguatan cadangan pangan pemerintah. Menurut data Kementerian Koordinator Bidang Pangan yang dikutip ANTARA, produksi beras meningkat 13,54 persen dan jagung 9,34 persen, sedangkan cadangan beras pemerintah mencapai 4.579.788 ton.
Perdagangan kedua negara juga didukung perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia-Uzbekistan, yang diluncurkan pada 2 Maret 2026. Menurut data Kementerian Perdagangan yang disampaikan ANTARA, nilai perdagangan pada 2025 mencapai 181,4 juta dolar AS atau sekitar Rp3,29 triliun, naik 48,9 persen dibandingkan 2021; nilainya terdiri atas ekspor Indonesia 72,6 juta dolar AS dan impor 108,8 juta dolar AS.
Indonesia juga menyambut rencana penerbangan langsung Tashkent-Jakarta. Pada 30 Oktober 2026, Zulkifli bertemu dengan Ketua Komite Nasional Ekologi dan Perubahan Iklim Uzbekistan sekaligus Penasihat Presiden Bidang Lingkungan Hidup, Aziz Abdukhakimov, untuk membahas pembangunan berkelanjutan, ekonomi hijau, pengelolaan lingkungan, dan aksi iklim menjelang COP31.
Dalam pertemuan lingkungan itu, Indonesia menawarkan peluang investasi hijau melalui nilai ekonomi karbon di enam sektor, termasuk kehutanan, energi, limbah, dan pertanian. Kedua negara juga menjajaki pengolahan sampah menjadi energi; Uzbekistan menargetkan 11 proyek fasilitas, sementara Indonesia menargetkan sedikitnya 18 fasilitas beroperasi hingga akhir 2029.
Menurut keterangan resmi pemerintah Uzbekistan pada September 2026 yang dikutip ANTARA, enam proyek pengolahan sampah menjadi energi telah memasuki tahap pelaksanaan dan lima lainnya masih dikembangkan. Enam proyek itu diproyeksikan mengolah 3,6 juta ton sampah per tahun dan menghasilkan sekitar 1,6 miliar kilowatt-jam listrik saat seluruh fasilitas beroperasi penuh. Zulkifli mengatakan, “Pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan.”