
BBM Satu Harga Topang Ekonomi Mahakam Ulu
9 menit yang lalu
Aksi di Tirana menyoroti biaya hidup dan dugaan korupsi serta berujung bentrokan dengan polisi.
Terbit · 2 min read

Ribuan warga Albania berunjuk rasa menuntut Perdana Menteri Edi Rama mundur. Menurut laporan CNN Indonesia yang mengutip Al Jazeera, demonstrasi itu menyoroti tingginya biaya hidup dan dugaan korupsi serta berujung bentrokan dengan polisi.
Aksi berlangsung di Tirana, ibu kota Albania, pada Sabtu (24/10/2026). Otoritas menyebut sejumlah gedung pemerintah diserang, puluhan demonstran ditangkap, dan lebih dari 300 demonstran serta polisi terluka.
Polisi menggunakan gas air mata, meriam air, dan peluru karet untuk membubarkan massa. Bentrokan berulang kali terjadi sejak gelombang besar demonstrasi dimulai pada pertengahan Oktober, menurut laporan yang sama.
Aksi sempat mereda selama beberapa hari sebelum ribuan orang kembali turun ke jalan pada Sabtu. Penyelenggara menyerukan mahasiswa dan warga dari berbagai wilayah Albania untuk ikut serta.
Profesor universitas, seniman, dan partai oposisi turut mendukung demonstrasi. Kementerian Pendidikan menjadi salah satu titik utama aksi; sejumlah pengunjuk rasa melempar batu dan menggulingkan tempat sampah yang terbakar ke arah gedung kementerian.
Menurut laporan media lokal yang dikutip CNN Indonesia, polisi memperketat pengamanan dan memeriksa kendaraan yang hendak memasuki Tirana. Demonstrasi antipemerintah juga berlangsung berkala sejak Mei, setelah kabar proyek hotel mewah yang dikaitkan dengan Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, mencuat.
Kemarahan publik kemudian meluas menjadi gerakan yang menentang korupsi dan tingginya biaya hidup. Sejumlah demonstran menyalahkan elite politik atas krisis di Albania dan menyerukan pengunduran diri Rama dari Partai Sosialis.
Seperti diberitakan The New York Times dan dikutip CNN Indonesia, demonstran Orgeta Likaj mengatakan mereka menolak pemerintahan yang ia sebut sebagai kediktatoran dan menyampaikan bahwa rakyat Albania tidak lagi menginginkan Rama. Rama menolak seruan mundur, menyalahkan kelompok anti-Uni Eropa, serta menuding aktor asing dan menuduh Rusia serta Iran mendorong penyebaran informasi keliru di internet.
Rama menyerukan dialog dan bantal merah diletakkan di luar kantor pusat pemerintahan sebagai simbol ajakan tersebut, tetapi demonstran membakarnya. Sebagian peserta juga membawa poster yang mengkritik Sali Berisha, pemimpin Partai Demokrat dan tokoh oposisi.