
Real Madrid Kalahkan Barcelona 2-1
17 menit yang lalu
Trump menyatakan serangan lanjutan ke Iran mungkin dilakukan, sementara pejabat Iran menyebut tanda konfrontasi kian intensif.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNN Indonesia, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington mungkin melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Iran. Pernyataan itu muncul setelah perang yang disebut berlangsung delapan bulan belum membuat Iran menyerah.
Trump menyampaikan hal tersebut kepada wartawan di Gedung Putih pada Kamis (22/10/2026), dengan mengatakan AS telah menghantam Iran habis-habisan. Dikutip dari Al Jazeera, ia juga mengeklaim mendapat dukungan publik atas perang itu menjelang pemilihan paruh waktu AS.
Pada Jumat (23/10/2026), Trump merujuk pada operasi sebelumnya yang menyerupai kampanye militer AS bernama Operasi Epic Fury. Ia mengatakan AS mungkin kembali menggelar operasi serupa dalam skala lebih kecil, atau pihak Iran akan menyetujui.
Menurut laporan yang sama, penasihat Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, Mehdi Mohammadi, menulis di saluran Telegram-nya pada Rabu (21/10/2026) bahwa tanda konfrontasi militer, khususnya antara Iran dan Israel, semakin intensif. Dikutip dari Gulf News, ia menunjuk peningkatan penerbangan musuh di atas Irak, pergerakan di wilayah pendudukan, dan persiapan militer untuk berbagai skenario.
Axios melaporkan bahwa puluhan jet tempur Israel terbang hingga ke perbatasan Iran dalam operasi skala besar. Operasi itu disebut bertujuan memproyeksikan kekuatan militer dan mencegah Teheran.
The Wall Street Journal melaporkan pada Sabtu (24/10/2026) bahwa pelaut AS memuat amunisi dan menyiapkan pesawat di atas kapal perang, termasuk kapal dalam kelompok serang kapal induk USS George Washington. Sejumlah sumber mengatakan kepada CNN bahwa Washington juga mengurangi kehadiran diplomatik dan militernya di beberapa bagian Timur Tengah karena meningkatnya ancaman eskalasi.
Axios, CNN, dan NBC News melaporkan bahwa pejabat AS menerima peringatan intelijen soal rencana Iran menargetkan warga Amerika yang telah mencapai tahap lanjut. Memorandum tertanggal 23 Oktober untuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyebut Iran telah secara substansial meningkatkan upaya menargetkan personel AS di Timur Tengah. NBC News melaporkan seorang pejabat AS membenarkan keaslian dokumen itu, yang tidak menyebut target spesifik, metode serangan, maupun negara tempat rencana tersebut dikembangkan di luar Timur Tengah.
NBC News juga melaporkan bahwa para pejabat militer AS telah menyampaikan opsi serangan dengan target baru, terutama pintu masuk dan terowongan fasilitas nuklir Iran yang terkubur dalam, termasuk Gunung Pickaxe. Target potensial lain mencakup Pulau Kharg sebagai pusat ekspor minyak Iran dan Pulau Qeshm di dekat Selat Hormuz, yang bila diserang dapat mengganggu pasokan minyak dan pengiriman komersial.
Di pihak Iran, Ghalibaf disebut bertemu Pemimpin Tertinggi Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei untuk meninjau perkembangan konflik dengan AS dan Israel. Menurut transkrip pembicaraan yang dikutip laporan itu, keduanya membahas perang di bidang militer, ekonomi, dan kognitif yang menurut pejabat Iran dilancarkan AS dan Israel, serta menekankan penguatan unsur kekuasaan, kohesi sosial, dan persatuan nasional.