
BGN Keluarkan Kendaraan dari Biaya Operasional MBG
15 menit yang lalu
Perombakan Gedung Putih dilakukan setelah Partai Republik kehilangan kendali atas Kongres dalam pemilu paruh waktu.
Terbit · 1 min read

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjuk Stephen Miller sebagai kepala staf Gedung Putih dan menawarkan jabatan sekretaris pers kepada Presiden UFC Dana White. Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip Reuters, perubahan itu terjadi setelah Partai Republik kalah dalam pemilu paruh waktu.
Trump mengumumkan penunjukan Miller pada Jumat (6/11/2026), sehari setelah Susie Wiles mengundurkan diri. Pergantian kepala staf tersebut dijadwalkan berlaku Senin (9/11/2026).
Trump menyebut Miller sebagai salah satu penasihat yang paling dipercayainya dan memuji kinerja Wiles. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Reuters bahwa penunjukan itu menunjukkan Trump tidak berniat mengubah arah kebijakannya.
Partai Republik kehilangan kendali atas Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat AS dalam pemilu Selasa (3/11/2026). Kekalahan itu membuat Trump menghadapi Kongres yang dikuasai Partai Demokrat dan kemungkinan penyelidikan terhadap kebijakannya.
Miller, 41 tahun, sebelumnya menjabat wakil kepala staf di bawah Wiles sejak Trump kembali menjabat pada 2025. Ia dikenal berperan dalam kebijakan imigrasi yang menargetkan penangkapan 3.000 orang per hari, termasuk imigran tanpa catatan kriminal yang telah lama tinggal di AS.
Survei Reuters/Ipsos yang rampung pada awal November menunjukkan 36 persen responden menyetujui kebijakan pengetatan imigrasi, sedangkan 54 persen tidak setuju. Miller juga terlibat dalam perombakan birokrasi federal yang menyebabkan puluhan ribu pegawai negeri diberhentikan pada 2025.
Dalam unggahan Truth Social pada Sabtu (7/11/2026), Trump menyatakan telah menawarkan jabatan sekretaris pers kepada White dan mengusulkan sejumlah petarung UFC sebagai asistennya. Namun, menurut laporan CNN yang dikutip Sky News, White menolak tawaran tersebut.
Trump juga meminta Departemen Kehakiman menyelidiki tindakan yang ia sebut sebagai pemerasan politik oleh Partai Demokrat. Tuduhan itu muncul setelah sejumlah politikus Demokrat mengisyaratkan akan memanggil pejabat pemerintahan dan sekutu Trump dalam penyelidikan di Kongres.