
Teddy Paparkan Capaian Dua Tahun Pemerintahan
15 menit yang lalu
Afriansyah Noor menilai pelatihan yang relevan dan akses kerja inklusif dapat memperluas kesempatan kerja generasi muda.
Terbit · 1 min read

Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menekankan pentingnya pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri dan akses terhadap pekerjaan layak bagi generasi muda. Menurut laporan ANTARA, keduanya dinilai dapat memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan kesejahteraan.
Dalam keterangan yang diterima di Jakarta pada Kamis (29/10/2026), Afriansyah menyebut perluasan akses kerja dilakukan melalui pemagangan nasional, penyediaan informasi pasar kerja, pelindungan hak pekerja, serta pembukaan kesempatan kerja layak yang inklusif.
Salah satu cara mempersiapkan generasi muda memasuki dunia kerja ialah pelatihan vokasi di Balai Latihan Kerja. Materinya mencakup pengembangan keterampilan, pelatihan ulang, dan sertifikasi kompetensi.
Afriansyah berharap pelatihan yang dapat diakses secara terbuka bisa meningkatkan keterampilan peserta agar selaras dengan kebutuhan industri. Ia juga mengatakan Kementerian Ketenagakerjaan memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha.
Kolaborasi tersebut ditujukan untuk menyesuaikan materi pelatihan dengan kebutuhan pasar kerja. Selain pelatihan, informasi pasar kerja dan layanan penempatan tenaga kerja diperlukan agar pencari kerja dapat menemukan peluang yang sesuai dengan kompetensinya.
Menurut laporan yang sama, upaya itu juga didukung standardisasi profesi, peningkatan produktivitas, dan kemitraan dengan dunia usaha. Afriansyah mengatakan evaluasi pelatihan perlu melihat jumlah peserta dan sertifikat yang diterbitkan, serta perkembangan lulusan setelah pelatihan.
Penelusuran alumni dan masukan industri, menurut Afriansyah, diperlukan untuk menilai kesesuaian pelatihan dengan kebutuhan pasar kerja dan manfaatnya bagi peserta. Evaluasi juga dapat mencakup kemampuan lulusan mendapatkan pekerjaan atau membangun usaha mandiri.
Ia menambahkan, kesempatan mengikuti pelatihan dan memperoleh pekerjaan layak perlu terbuka tanpa diskriminasi, termasuk bagi pencari kerja pemula, pekerja aktif, kelompok rentan, dan penyandang disabilitas. Agenda ke depan, menurut Afriansyah, mencakup perluasan akses, peningkatan mutu, penguatan kolaborasi, dan pengukuran dampak bagi kesejahteraan masyarakat.