
Anthony Ginting Lolos ke Perempat Final Korea Open
11 menit yang lalu
Survei yang dikutip CNBC Indonesia menunjukkan kecemasan karier dan perubahan tuntutan kerja di kalangan pengembang perangkat lunak.
Terbit · 1 min read

Sebanyak 54 persen pengembang perangkat lunak mengaku sangat cemas terhadap prospek karier jangka panjang mereka di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI). Angka itu berasal dari laporan Adaptavist yang dikutip TechRadar, menurut laporan CNBC Indonesia pada Kamis (5/11/2026).
Pengembang yang disurvei melaporkan perubahan tuntutan kerja dan penggunaan AI di perusahaan mereka.
Menurut laporan yang sama, 60 persen responden mengatakan manajemen menuntut hasil lebih banyak dengan sumber daya lebih sedikit karena tersedianya perangkat AI. Sebanyak 55 persen merasakan tekanan untuk menuntaskan pekerjaan lebih cepat.
Perubahan itu membuat 61 persen responden menilai dunia pemrograman bergerak terlalu cepat. Sebanyak 31 persen mengatakan perubahan tersebut merugikan karier mereka, sementara 46 persen menilai profesi pengembang perangkat lunak kehilangan daya tarik.
Sebanyak 51 persen responden merasakan tugas mereka bergeser dari membuat kode untuk menciptakan hal baru menjadi mengawasi agen AI dan memeriksa hasilnya. Laporan itu menyebut perubahan tersebut sebagai salah satu dampak penggunaan AI dalam pekerjaan pengembang.
Penggunaan AI juga dilaporkan menjadi formalitas di sebagian tempat kerja. Separuh responden mengaku menggunakannya untuk menunjukkan kepada manajer bahwa mereka memakai teknologi tersebut, sedangkan 37 persen khawatir akan terkena pemutusan hubungan kerja jika menolak mengadopsinya.
Laporan Adaptavist yang dikutip CNBC Indonesia menyebut 58 persen perusahaan menjadikan tingkat penggunaan AI sebagai indikator kinerja utama. Namun, hanya 22 persen pengembang yang menilai ukuran tersebut relevan.
Dampak terhadap jenjang karier juga menjadi perhatian dalam laporan itu. Sebanyak 43 persen pengembang junior merasa AI membatasi kesempatan belajar di tempat kerja, sementara pengembang tingkat menengah disebut menghadapi risiko karena posisi mereka berada di antara pekerjaan teknis dan manajemen senior.