
KAI Batalkan Rencana Impor KRL Bekas Jepang
9 menit yang lalu
Pertemuan di Amerika Serikat membahas teknologi, otomasi, dan peningkatan kompetensi personel navigasi udara.
Terbit · 2 min read

AirNav Indonesia dan Federal Aviation Administration–Air Traffic Organization (FAA-ATO) membahas penguatan kerja sama untuk memodernisasi navigasi penerbangan, termasuk pengembangan teknologi, sistem otomasi, dan kompetensi pemandu lalu lintas udara Indonesia. Menurut laporan ANTARA, Direktur Utama AirNav Indonesia Avirianto Suratno menyampaikan pembahasan itu dalam pertemuan Program Management Review (PMR).
Pertemuan berlangsung pada 2–4 November 2026 di Kantor Pusat FAA di Washington, D.C., Amerika Serikat. Delegasi AirNav juga mengunjungi FAA Air Traffic Control System Command Center di Warrenton, Virginia.
Pembahasan PMR mencakup penguatan manajemen arus penerbangan, otomasi sistem, dan pemanfaatan analisis data. FAA memaparkan teknologi pengelolaan lalu lintas udara, termasuk Terminal Flight Data Manager, Time-Based Flow Management, dan Flow Management Data and Services, serta penggunaan analitik prediktif untuk mendukung keputusan operasional.
Avirianto mengatakan kerja sama itu memberi AirNav kesempatan mempelajari pengembangan sistem dan praktik pengelolaan lalu lintas udara di Amerika Serikat. Ia menilai pertukaran pengalaman dapat mendukung peningkatan kemampuan AirNav dalam menghadapi tantangan pengelolaan ruang udara Indonesia.
“Kerja sama ini tidak hanya menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman, tetapi juga kesempatan untuk membangun kolaborasi yang lebih konkret dalam menghadapi tantangan pengelolaan ruang udara Indonesia yang semakin kompleks,” ujar Avirianto.
Kedua lembaga juga membahas kompetensi sumber daya manusia, terutama personel pengatur lalu lintas udara. Menurut laporan yang sama, pembahasannya meliputi standar pelatihan dan kualifikasi, sertifikasi, penilaian kompetensi, serta evaluasi kinerja personel FAA-ATO.
Di pusat komando FAA, delegasi mempelajari pengelolaan arus lalu lintas udara, mekanisme pengambilan keputusan kolaboratif, dan sistem pendukung keputusan operasional. Pembahasan juga mencakup peran Joint Air Traffic Operations Command dalam menangani keadaan darurat dan gangguan operasional penerbangan.
Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro mengatakan pembahasan tersebut sejalan dengan agenda modernisasi layanan navigasi yang dikembangkan AirNav. Ia menyebut perusahaan itu juga menyiapkan pengembangan kapabilitas melalui Flight and Flow Information for a Collaborative Environment, System Wide Information Management, dan Trajectory-Based Operations.
Kerja sama operasional AirNav dan FAA sebelumnya mencakup koordinasi antara Ujung Pandang Flight Information Region dan Oakland Oceanic FIR. Hubungan itu diperkuat dengan pembaruan Letter of Agreement pada 2023 dan penandatanganan Memorandum of Understanding pada November 2024; pertemuan PMR merupakan bagian dari pelaksanaan Collaborative Work Plan kedua lembaga.