
Sudinhub Jaksel Angkut 13 Motor di Gandaria City dan Melawai
13 menit yang lalu
Kemampuan mengingat mimpi berkaitan dengan aktivitas otak, kebiasaan melamun, dan pengalaman seseorang.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan ANTARA, kemampuan seseorang mengingat mimpi berkaitan dengan aktivitas otak dan dipengaruhi sejumlah faktor. Orang yang merasa tidak pernah bermimpi disebut tetap mengalaminya, hanya saja tidak mengingatnya saat bangun tidur.
Mimpi terjadi saat seseorang memasuki fase tidur rapid eye movement atau REM. Mengutip Healthline, fase ini ditandai dengan gerakan mata dan pernapasan yang lebih cepat serta meningkatnya gerakan tubuh.
Menurut laporan yang sama, fase REM bisa memicu mimpi karena aktivitas gelombang otak pada fase itu mirip dengan saat seseorang tersadar. Fase ini biasanya muncul sekitar 90 menit setelah seseorang tertidur dan berlangsung selama satu jam sebelum bangun.
Mimpi juga dapat memengaruhi suasana hati. Mengutip UCLA Health, sebuah penelitian menemukan bahwa lebih dari 40 persen pesertanya merasa suasana hati mereka dipengaruhi oleh mimpi.
Mimpi tentang kematian atau hal yang menimbulkan kecemasan bisa membuat suasana hati menjadi buruk. Sebaliknya, mimpi indah seperti berkumpul bersama orang lain atau makan dan minum bisa memperbaikinya.
Soal alasan sebagian orang mengingat mimpi, ANTARA mengutip Psychology Today bahwa kebiasaan melamun berhubungan dengan kemampuan tersebut. Orang yang sering melamun cenderung membiarkan pikirannya ke mana-mana sehingga lebih peka terhadap hal yang muncul di pikirannya, termasuk mimpi.
Pengalaman traumatis juga bisa membuat mimpi terasa nyata atau menciptakan mimpi buruk yang lebih mudah diingat saat bangun tidur. Hal ini bisa terjadi, misalnya, ketika seseorang baru kehilangan orang terdekat lalu memimpikannya dengan detail.
Menurut laporan yang sama, sebuah penelitian menemukan bahwa remaja perempuan lebih sering mengingat mimpi dibandingkan remaja laki-laki. Penelitian itu juga menemukan bahwa orang yang lebih mudah mengingat mimpinya menilai diri mereka lebih kreatif daripada orang yang jarang mengingat mimpi.
Alasan lain yang lebih sederhana adalah anggapan bahwa mimpi tidak terlalu penting, atau aktivitas yang padat. Lama-kelamaan, ingatan tentang mimpi bisa memudar dan terlupakan.