
Veda Ega Start Kedelapan di Moto3 Malaysia
9 menit yang lalu
Laporan menyebut aset senilai US$6,3 miliar dicuri dari Binance; perusahaan menyatakan akan menanggung kerugian.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip Reuters, aset kripto senilai US$6,3 miliar atau sekitar Rp114 triliun dicuri dari Binance. Perusahaan menyatakan akan menanggung kerugian yang timbul akibat insiden tersebut.
Laporan itu tidak menyebutkan tanggal kejadian. Binance sempat menghentikan penarikan dana untuk menangani dampak serangan dan memeriksa keamanan aset pengguna.
Binance menyatakan bekerja sama dengan mitra industri dan aparat penegak hukum untuk melacak serta membekukan aset. Sekitar US$3 miliar dilaporkan telah ditemukan dan dibekukan, sedangkan keberadaan sisa US$3,3 miliar belum dijelaskan.
Penerbit mata uang kripto stabil Tether dan Circle termasuk pihak yang membekukan aset terkait. Tether menyebut telah membekukan hampir US$1,57 miliar, sementara Circle membekukan lebih dari US$800 juta. World Liberty Financial dan Ripple juga dilaporkan ikut mengambil langkah pembekuan.
Binance memperkirakan layanan penarikan dapat dibuka kembali sekitar 45 jam setelah penghentian. Perusahaan menyampaikan bahwa penyelidikan awal belum mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab.
TRM Labs dan Chainalysis menilai pola serangan itu memiliki kemiripan dengan peretasan sebelumnya yang dikaitkan dengan Korea Utara. TRM Labs menyebut penyerang menguasai dompet digital Binance dan memindahkan aset ke sejumlah dompet yang mereka kendalikan.
Binance menduga serangan bermula dari laptop seorang insinyur yang diretas, tetapi kemudian menyatakan penyelidikan menemukan titik peretasan lain. Pemerintah Korea Utara secara konsisten membantah tuduhan keterlibatan dalam pencurian siber.
Dampak pasar yang disebut dalam laporan mencakup penurunan harga Bitcoin, Ethereum, dan token BNB. Sejumlah analis juga menilai insiden tersebut dapat memengaruhi kepercayaan investor terhadap bursa kripto terpusat.