
Protes di Chile Tuntut Menteri Kehakiman Mundur
14 menit yang lalu
BRIN mendorong rencana pengembangan tenaga kerja nuklir untuk mendukung pembangunan PLTN pertama Indonesia.
Terbit · 1 min read

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penyusunan peta jalan pengembangan sumber daya manusia (SDM) nuklir untuk mendukung pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama di Indonesia. Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip situs resmi BRIN, Kepala ORTN BRIN Syaiful Bakhri menyampaikan hal itu.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025-2045 yang ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 59 Tahun 2024, pengoperasian PLTN ditargetkan mulai 2032. PLTN disebut sebagai salah satu pilihan sumber listrik Indonesia.
Syaiful mengatakan persiapan tenaga kerja perlu dituangkan dalam rencana kerja yang memiliki sasaran, pembagian peran, dan tahapan pelaksanaan. Menurutnya, konsolidasi tidak cukup dilakukan melalui pertemuan dan pertukaran pandangan.
Peta jalan dan rencana induk SDM, menurut Syaiful, perlu mengikuti tahapan pembangunan PLTN pada 2032, 2040, 2050, dan 2060. Perhitungan kebutuhan tenaga kerja juga perlu mempertimbangkan pilihan teknologi, termasuk reaktor modular kecil dan reaktor berkapasitas besar.
Ia menyebut strategi pemenuhan tenaga kerja dapat mencakup peningkatan kompetensi tenaga PLN yang sudah tersedia serta pendidikan dan pelatihan bagi tenaga baru. Pemerintah, regulator, lembaga riset, perguruan tinggi, industri, dan calon penyedia teknologi perlu dilibatkan sejak perencanaan.
Keterlibatan industri dan penyedia teknologi diperlukan agar pelatihan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan. Bentuk pelatihan yang disebutkan antara lain pelatihan di tempat kerja dan pelatihan bagi calon pelatih.
Syaiful menilai sistem pengembangan SDM perlu disiapkan agar tidak bergantung pada satu jenis reaktor atau penyedia teknologi. Cakupannya meliputi tenaga operasi, pemeliharaan, konstruksi, personel pendukung, pengelolaan siklus bahan bakar, limbah radioaktif, dan infrastruktur terkait.
Ia juga menyebut perlunya sinergi antarlembaga nasional untuk mengelola kebutuhan, penyediaan, pelatihan, sertifikasi, pembiayaan, dan pengelolaan SDM. Dalam jangka panjang, kerja sama pendidikan tinggi lintas disiplin dinilai dapat membantu menyiapkan tenaga profesional untuk PLTN dan penerapan teknologi nuklir di sektor lain.