
Bank Mandiri Lepas Saham Inhealth ke IFG Life
10 menit yang lalu
Indonesia menyiapkan kandidat vaksin malaria vivax dan mengembangkan fitofarmaka dari bahan alam.
Terbit · 1 min read

ANTARA melaporkan Indonesia mempercepat riset kandidat vaksin malaria untuk parasit Plasmodium vivax serta mengembangkan fitofarmaka dari bahan alam. Kepala BRIN Arif Satria mengatakan Presiden Prabowo Subianto meminta riset vaksin malaria dikebut.
Arif menyampaikan perkembangan itu seusai rapat terbatas di Istana pada Selasa (27/10/2026). BRIN bekerja bersama Kementerian Kesehatan dan Bio Farma, dengan harapan proses pengembangan dapat dipercepat tiga tahun dari jadwal semula.
Menurut laporan ANTARA, vaksin malaria yang telah direkomendasikan WHO, RTS,S dan R21, dirancang untuk Plasmodium falciparum. Vaksin untuk Plasmodium vivax, yang menjadi penyebab banyak kasus di Asia Tenggara, belum tersedia.
Arif menyebut parasit malaria di Indonesia memiliki karakter berbeda dan riset vaksin vivax dapat menjadi sumbangan Indonesia bagi dunia. Studi di Timika pada 2004-2005 mencatat 37 persen kasus malaria terkonfirmasi disebabkan vivax.
Kandidat vaksin paling maju masih berada pada tahap praklinis, sementara kandidat lain dalam tahap pembuktian konsep. Percepatan pengembangan, menurut laporan yang sama, memerlukan persiapan uji klinis, evaluasi BPOM, dan kapasitas produksi Bio Farma.
ANTARA juga melaporkan Indonesia memiliki sekitar 30.000 jenis tumbuhan berpotensi obat, menurut BPOM. Sekitar 18.000 digunakan sebagai jamu, 71 telah menjadi obat herbal terstandar, dan 20 berstatus fitofarmaka.
Arif menyebut ada 19 kandidat fitofarmaka yang saat ini berstatus obat herbal terstandar dan menjalani uji klinis. BRIN juga bekerja sama dengan lembaga pengawas obat dan makanan Korea Selatan untuk standardisasi herbal dan kajian senyawa penanda dari tanaman obat.
Kementerian Kesehatan meluncurkan Formularium Fitofarmaka pada 2022 untuk membuka pemakaian fitofarmaka di fasilitas kesehatan melalui Dana Alokasi Khusus dan kapitasi JKN. Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia mendorong agar fitofarmaka juga masuk Formularium Nasional.