
Persijap Raih Poin Perdana Usai Imbang 1-1
12 menit yang lalu
Tulisan opini di ANTARA mengingatkan capaian berakhirnya wabah polio perlu dijaga lewat imunisasi dan surveilans.
Terbit · 2 min read

Menurut tulisan opini yang dimuat ANTARA pada Sabtu (24/10/2026), Hari Polio Sedunia setiap 24 Oktober mengingatkan bahwa capaian kesehatan masyarakat harus terus dirawat. Penulis menilai perlindungan anak bergantung pada imunisasi lengkap, penemuan kasus, dan layanan yang menjangkau keluarga yang paling sulit diakses.
Penulis menyebut, pada 19 November 2025 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan kejadian luar biasa polio tipe 2 di Indonesia berakhir. Wabah di Aceh yang dilaporkan pada November 2022 berkaitan dengan poliovirus turunan vaksin tipe 2 (cVDPV2), dan responsnya berkembang dari imunisasi tambahan di wilayah terdampak hingga Pekan Imunisasi Nasional pada 2024.
Menurut tulisan yang sama, pengumuman WHO pada November 2025 menyebut hampir 60 juta dosis tambahan diberikan selama respons wabah, dan angka itu menunjukkan jumlah dosis, bukan jumlah anak yang berbeda. Penilaian respons pada Desember 2024 masih menemukan kesenjangan surveilans, kecukupan spesimen, dan kekebalan antarwilayah.
Penulis juga menyebut cakupan dosis kedua vaksin polio inaktif (IPV) naik dari 63 persen pada 2023 menjadi 73 persen pada 2024, atau 10 poin persentase. Pengenalan awal vaksin heksavalen pada Oktober 2025 disebut membutuhkan ketersediaan vaksin, pencatatan yang baik, dan tindak lanjut keterlambatan imunisasi.
Penulis menekankan bahwa penutupan wabah, sertifikasi bebas poliovirus liar, dan eradikasi global harus dibedakan. Eradikasi global poliovirus liar tipe 2 disertifikasi pada 2015 dan tipe 3 pada 2019, tetapi virus turunan vaksin masih dapat menimbulkan wabah. Afghanistan dan Pakistan masih disebut memiliki transmisi endemik poliovirus liar tipe 1 dalam pernyataan WHO pada Agustus 2026.
Menurut penulis, IPV membentuk antibodi dalam darah dan terutama melindungi terhadap kelumpuhan; vaksin ini tidak mengandung virus hidup. Vaksin polio oral (OPV) membentuk kekebalan mukosa usus yang penting untuk memutus penularan. Bila virus vaksin terus bersirkulasi di populasi berkekebalan rendah, perubahan genetik dapat mengembalikan kemampuannya menyebabkan penyakit. Vaksin nOPV2 dirancang lebih stabil secara genetik sehingga risikonya berkurang, tetapi tidak menjadi nol.
Penulis memaparkan, saat inisiatif eradikasi global diluncurkan pada 1988, diperkirakan sekitar 350.000 kasus polio terjadi di lebih dari 125 negara endemik, dan kasus akibat poliovirus liar sejak itu turun lebih dari 99 persen. Ia juga mencontohkan temuan cVDPV2 di New York pada 2022 dan poliovirus liar tipe 1 di air limbah Hamburg dari sampel Oktober 2025. Deteksi cVDPV2 di Papua Nugini pada 2025 disebut terkait secara genetik dengan transmisi di Indonesia pada 2024, dan menurut penulis temuan itu mendukung penyelidikan serta kerja sama, bukan menyalahkan penduduk.
Penulis menyebut sebagian penyintas polio dapat mengalami sindrom pascapolio bertahun-tahun kemudian, berupa kelemahan baru, kelelahan, atau nyeri, dan kondisi itu bukan infeksi menular baru. Ia menambahkan bahwa penelitian partikel mirip virus polio yang distabilkan, terbit pada 2025, masih dalam pengujian praklinis, termasuk pada tikus, sehingga belum membuktikan efektivitas pada manusia. Eksplorasi herbal dan sel punca, menurutnya, juga belum membuktikan dapat menyembuhkan polio.
Untuk menjaga capaian itu, penulis mengusulkan perlindungan anggaran imunisasi rutin dan surveilans setelah kampanye berakhir, dukungan bagi puskesmas menyediakan imunisasi kejar, serta komunikasi bersama tokoh masyarakat. Ia juga menekankan kewaspadaan terhadap lumpuh layuh akut melalui pelaporan tepat waktu dan spesimen yang memadai, serta layanan rehabilitasi bagi penyintas dalam perencanaan program.