
Inter Miami Gagal Menang Usai Unggul 3-0
17 menit yang lalu
Persediaan nuklir militer dunia menyusut sejak 2006, tetapi sejumlah negara Asia meningkatkan jumlah hulu ledaknya.
Terbit · 2 min read

Persediaan hulu ledak nuklir militer dunia menyusut selama dua dekade, sementara sejumlah negara Asia meningkatkan persenjataannya. Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip data Federation of American Scientists (FAS), jumlah di sembilan negara turun sekitar 37 persen, dari 15.499 pada 2006 menjadi 9.745 pada 2026.
Data yang dimuat dalam laporan itu mencakup hulu ledak yang telah ditempatkan maupun disimpan sebagai cadangan militer, tetapi tidak termasuk senjata yang dipensiunkan dan menunggu pembongkaran. Rusia dan Amerika Serikat (AS) masih menguasai sekitar 83 persen persediaan militer global.
Pada 2006, AS memiliki 7.853 hulu ledak dalam persediaan militernya, sedangkan Rusia memiliki 6.643. Menurut estimasi FAS untuk 2026, Rusia berada di posisi pertama dengan sekitar 4.400 hulu ledak, diikuti AS dengan 3.700.
Dibandingkan dengan 2006, persediaan AS turun sekitar 53 persen dan Rusia sekitar 34 persen. Laporan CNBC Indonesia menyebut pengurangan itu mencerminkan proses penurunan persenjataan setelah Perang Dingin, termasuk melalui kesepakatan pengendalian senjata strategis.
New START berakhir pada 5 Februari 2026, sehingga batasan hukum terakhir terhadap jumlah senjata nuklir strategis yang ditempatkan oleh AS dan Rusia tidak lagi berlaku, menurut laporan tersebut. Berakhirnya kesepakatan itu menambah ketidakpastian mengenai pengendalian senjata nuklir.
Sementara itu, jumlah hulu ledak China diperkirakan meningkat dari 235 pada 2006 menjadi 620 pada 2026, atau sekitar 164 persen. Angka tersebut menempatkan China di atas Prancis, yang diperkirakan memiliki 290 hulu ledak, dan Inggris, dengan 225.
FAS menyebut China sedang membangun sekitar 320 silo untuk rudal berbahan bakar padat di tiga lokasi serta 30 silo untuk rudal berbahan bakar cair. China juga mengoperasikan enam kapal selam bertenaga nuklir yang dapat membawa rudal balistik, menurut laporan CNBC Indonesia.
India meningkatkan jumlah hulu ledaknya dari 43 pada 2006 menjadi sekitar 190 pada 2026, sementara Pakistan naik dari 50 menjadi 170. FAS memperkirakan Korea Utara memiliki sekitar 60 hulu ledak yang telah dirakit pada 2026 dan Israel sekitar 90; secara keseluruhan, laporan itu menyebut pengurangan persediaan global berlangsung bersamaan dengan ekspansi dan modernisasi di sejumlah negara.