
Ubed Hadapi Popov di Final French Open 2026
11 menit yang lalu
Tutup botol yang ditemukan di lepas pantai Jepang membawa ratusan makhluk hidup dari perairan dekat Filipina.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, sebuah tutup botol yang terapung di lepas pantai barat Jepang ditemukan membawa ekosistem mini berisi 307 makhluk hidup dari perairan dekat Filipina, berdasarkan hasil riset para peneliti Jepang.
Tutup botol itu ditemukan di lepas pantai Prefektur Kochi pada Januari 2023. Tim riset yang dipimpin Universitas Nagoya memperkirakan benda tersebut terbawa arus Kuroshio, arus laut hangat yang mengalir ke utara di barat laut Samudra Pasifik Utara, selama sedikitnya 70 hari.
Menurut laporan yang sama, temuan itu melibatkan tim peneliti dari Universitas Kyoto dan beberapa lembaga, salah satunya Badan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kelautan dan Bumi Jepang (JAMSTEC). Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa potongan kecil sampah laut dapat mengangkut spesies invasif melintasi jarak sangat jauh.
Tutup botol berdiameter 3,5 sentimeter itu dihuni seekor cacing laut sepanjang sembilan sentimeter yang membangun sarang rumit dari lendir dan kerikil. Sarang tersebut juga menjadi tempat tinggal bagi 306 makhluk lain, termasuk foraminifera, teritip, bryozoa, dan cacing pipih.
Beberapa spesies yang ditemukan di dalam tutup botol itu tidak ditemukan di Jepang. Keberadaan spesies pesisir dan laut lepas menunjukkan bahwa tutup botol tersebut hanyut melintasi perairan dekat pantai maupun laut lepas.
Label perusahaan minuman Filipina yang menempel pada tutup botol mengindikasikan bahwa benda itu dibuang di dalam atau di sekitar negara di Asia Tenggara tersebut.
Tim peneliti menganalisis rasio isotop oksigen pada cangkang foraminifera, yakni teknik untuk merekonstruksi suhu air di masa lampau berdasarkan komposisi kimia cangkang, dan memadukannya dengan simulasi arus laut. Hasilnya, tutup botol itu telah melewati perairan yang lebih hangat di sekitar Filipina.
Para peneliti menyatakan bahwa penelusuran rute semacam itu dapat membantu mengidentifikasi cara spesies invasif memasuki lingkungan baru serta cara mencegahnya.
Naoto Jimi dari Laboratorium Biologi Kelautan Sugashima, Universitas Nagoya, di Toba, Prefektur Mie, mengatakan bahwa sampah sekecil tutup botol pun tidak boleh dianggap remeh. Menurut dia, membuang sampah dengan benar ke tempat sampah membantu melindungi ekosistem.