
HRC Siap Jual Komponen Performa Honda dan Acura
15 menit yang lalu
Seorang sarjana meninggalkan kerja kantoran demi menjadi ART di Taiwan dan melunasi utang keluarga.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia, sejumlah lulusan perguruan tinggi memilih bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di tengah tekanan ekonomi. Salah satunya Maha (31), sarjana yang meninggalkan pekerjaan kantoran di Indonesia untuk bekerja di Taiwan.
Maha merupakan lulusan Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Ponorogo tahun 2018. Sebelum merantau, ia bekerja selama dua tahun di Perhutani KPH Jember, pada divisi sumber daya manusia dan keuangan.
Menurut laporan yang sama, gaji setara upah minimum regional yang ia terima sebagian besar habis untuk biaya kos dan kebutuhan sehari-hari. Maha juga harus membantu melunasi utang orang tuanya sehingga sulit menabung. "Awalnya sudah bosan banget gajiku habis buat bayar kos dan biaya hidup di luar kota, bahkan aku enggak bisa nabung karena gajiku cuma UMR," kata Maha kepada CNBC Indonesia.
Maha kemudian mempertimbangkan pekerjaan lain yang tidak mengharuskannya membayar tempat tinggal. Dari situ muncul keinginannya bekerja sebagai ART di Taiwan.
Di Taiwan, Maha memasak tiga kali sehari, membersihkan rumah empat lantai milik majikannya, mencuci pakaian dengan mesin maupun secara manual, dan berbelanja ke pasar. Sesekali ia membantu menjaga bayi saat cucu majikannya berkunjung, dengan penghasilan sekitar Rp10 juta per bulan. Ia mengaku pekerjaannya cukup berat hingga pernah tertidur di kamar mandi.
Meski begitu, Maha menyebut keputusannya membawa perubahan besar bagi dirinya dan keluarganya. "Yang pasti bersyukur semua utang yang aku tanggung sudah lunas di tahun pertama aku kerja di Taiwan," katanya. Ia juga merasa berkembang secara pribadi karena belajar beradaptasi dengan lingkungan, budaya, dan bahasa yang berbeda.
Maha menegaskan tidak menyesali keputusannya dan menilai pekerjaan ART tidak layak dipandang sebelah mata. "Kerja sebagai ART menurutku bukan hal sepele. Aku enggak merasa pendidikanku sia-sia hanya karena aku jadi ART, malah itu jadi nilai plus menurutku," katanya. Menurutnya, pendidikan juga membentuk pola pikir, kemampuan mengelola emosi, dan cara berkomunikasi.
Pengalaman Maha dibagikan lewat akun Threads dan mendapat banyak tanggapan. Seorang pengguna mengaku lulusan D1 Administrasi tahun 2012 yang sebelumnya kepala gudang, lalu menjadi ART di Hong Kong dan sudah enam tahun bekerja pada majikan yang sama. Pengguna lain mengaku lulusan S1 Ekonomi jurusan Manajemen yang kini bekerja sebagai ART di Singapura.