
Tiket Persib untuk Laga di Melbourne Habis
12 menit yang lalu
Program menargetkan penanaman sekitar 120.000 pohon dan melibatkan kelompok tani setempat.
Terbit · 2 min read

Sebanyak 325 hektare hutan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Jawa Barat, direncanakan direstorasi pada 2026–2027 dengan target penanaman sekitar 120.000 pohon. Menurut laporan ANTARA, program ini akan melibatkan tiga Kelompok Tani Hutan (KTH) setempat.
Restorasi direncanakan berlangsung dalam dua tahap, yakni 225 hektare pada 2026 dan 100 hektare pada 2027. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan di kawasan TNGHS, Jawa Barat.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak Didid Sulastiyo mengatakan pemulihan ekosistem akan mengikuti rencana kerja dan ketentuan yang berlaku serta melibatkan masyarakat. “Kami mendukung rencana pemulihan ekosistem 325 hektare di TNGHS sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem kawasan,” kata Didid dalam keterangan resmi.
Menurut laporan yang sama, kelompok tani akan terlibat dalam pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan pohon. Didid juga mengatakan hasil restorasi perlu dipelihara dan dipantau agar pemulihan berlangsung berkelanjutan.
Laksmi Prasvita, Head of Social Investment and Communications Star Energy Geothermal (SEG), mengatakan perusahaan telah beroperasi di kawasan TNGHS selama 32 tahun dan menjalankan sejumlah kegiatan konservasi hutan. Menurut data perusahaan yang dikutip ANTARA, dari sekitar 10.000 hektare wilayah konsesi, 239 hektare atau sekitar 2,4 persen digunakan untuk fasilitas operasional panas bumi.
SEG juga menjalankan Green Corridor Initiative untuk mendukung pemulihan habitat dan konektivitas hutan di area sekitar 275 hektare. Rencana restorasi 325 hektare pada 2026–2027 menjadi tambahan dari kegiatan tersebut.
Pemulihan habitat di TNGHS berkaitan dengan keberadaan satwa liar, termasuk macan tutul jawa (Panthera pardus melas). Hasil Java-Wide Leopard Survey (JWLS) yang dikoordinasikan Yayasan SINTAS Indonesia mengidentifikasi 51 individu, termasuk tiga anakan, di bentang alam Halimun-Salak.
Direktur Yayasan SINTAS Indonesia Hariyo T. Wibisono sebelumnya menyatakan kelangsungan hidup macan tutul jawa dalam jangka panjang bergantung pada kualitas habitat, ketersediaan mangsa, konektivitas antarhabitat, serta pengelolaan tekanan terhadap kawasan. Restorasi diarahkan untuk memulihkan lahan terdegradasi, meningkatkan kualitas habitat, dan memperkuat konektivitas hutan. Laksmi mengatakan keberhasilan restorasi tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari pemulihan kondisi hutan dan manfaat bagi masyarakat; keterlibatan kelompok tani diharapkan membuka peluang penghasilan bagi warga sekitar.