
Prabowo Rapat dengan Gubernur URI di Hambalang
15 menit yang lalu
Dispertan Garut memperkirakan 7.869 hektare sawah panen pada Oktober 2026, di tengah dampak kemarau.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan ANTARA, Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Garut, Jawa Barat, memperkirakan luas lahan panen padi pada Oktober 2026 mencapai 7.869 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan. Perkiraan itu disampaikan Kepala Dispertan Garut Ardhy Firdian di Garut, Minggu (25/10/2026).
Ardhy menyebut, "Estimasi panen di bulan Oktober ada 7.869,07 hektare di 42 kecamatan di Garut." Ia menuturkan, lahan sawah di Kabupaten Garut tercatat seluas 46.824,40 hektare dengan rata-rata produktivitas gabah kering panen (GKP) sebanyak 69 kuintal per hektare.
Menurut Ardhy, potensi panen padi pada Oktober 2026 tersebar di wilayah pertanian bagian selatan maupun utara Garut. Potensi panen terluas berada di daerah selatan, yakni Kecamatan Bungbulang seluas 447 hektare dan Talegong 439,5 hektare.
Daerah lain dengan potensi panen adalah Kecamatan Limbangan seluas 345 hektare, Samarang 318,75 hektare, dan Kadungora 316,11 hektare. Menurut laporan yang sama, panen masih bisa berlangsung karena terdapat pengairan yang cukup, meskipun masa tanam berlangsung saat kemarau.
Ardhy mengatakan, "Bisa panen di musim kemarau karena kan ada sawah-sawah kita yang masih punya cukup air dari irigasi."
Ardhy mengatakan, musim kemarau tahun ini berdampak pada lahan sawah yang terancam kekeringan. Sebagian lahan juga mengalami puso atau gagal panen seluas 221,40 hektare, atau sekitar 0,47 persen.
Menurut Ardhy, sawah yang puso itu sama sekali tidak mendapat pasokan air irigasi saat usia tanam sekitar dua bulan, ketika tanaman masih membutuhkan air. "Ada juga sawah-sawah yang memang sempat ditanam, sempat pada waktu perjalanannya itu tidak terairi akhirnya terancam, dan yang puso itu yang enggak sama sekali ada air," katanya.
Ia mengungkapkan, produksi padi GKP secara keseluruhan pada periode Januari hingga September 2026 mencapai 730.769 ton. Angka itu naik dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 701.422 ton, yang menurut Ardhy disebabkan percepatan tanam pada awal tahun ketika pasokan air dan intensitas hujan masih cukup.