
DPR Sebut Belum Ada Aturan soal Sanksi Etik Calon KPU
14 menit yang lalu
Hujan lebat turun di Palembang setelah lebih dari tiga bulan kemarau; Stasiun Meteorologi menyebut faktor atmosfer dan OMC.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, hujan lebat mulai mengguyur sejumlah kawasan di Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada Sabtu (24/10/2026). Hujan itu disambut suka cita oleh warga setelah lebih dari tiga bulan dilanda musim kemarau panjang.
Hujan lebat tersebut turun sekitar pukul 15.30 WIB. Fudin, warga Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, mengatakan hujan itu membawa berkah bagi masyarakat, terutama di tengah kesulitan air bersih dan kebakaran lahan yang marak terjadi di daerah itu akibat kemarau panjang.
Fudin mengatakan: "Alhamdulillah, hari ini hujan mulai turun setelah beberapa bulan Kota Palembang dilanda kekeringan dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla)."
Menurut Fudin, kemarau panjang berdampak pada kabut asap kebakaran lahan yang menyelimuti Kota Palembang selama beberapa bulan terakhir hingga mengganggu kesehatan masyarakat.
Yuli, warga Lorong Sepakat, Kelurahan 8 Ulu, mengaku selama kemarau warga setempat kesulitan mendapat air bersih sehingga terpaksa membeli air dengan harga yang cukup mahal. Ia mengatakan: "Dengan turunnya hujan hari ini kami sangat senang karena tidak lagi harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari selama beberapa hari ke depan."
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Siswanto, menjelaskan bahwa potensi pertumbuhan awan hujan telah terdeteksi. Hal itu berdasarkan pengamatan radiosonde atau profil atmosfer oleh BMKG di Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang pada Sabtu (24/10/2026) pukul 07.00 WIB.
Menurut laporan yang sama, kondisi tersebut dipicu dinamika pergerakan angin vertikal yang berhasil memecah lapisan inversi. Lapisan inversi adalah lapisan atmosfer penghambat yang selama ini mengunci polutan asap di dekat permukaan tanah.
Potensi hujan itu juga didorong percepatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara hybrid yang dilancarkan tim gabungan. Upaya tersebut termasuk penyebaran dry ice (karbon dioksida padat) secara intensif di udara untuk mengurai gumpalan kabut asap karhutla Sumatera Selatan.
Siswanto menyatakan hujan di Palembang dan sekitarnya hari itu secara dinamika atmosfer memang mendukung pembentukan awan hujan, ditambah dampak dari OMC dengan bahan semai NaCl. Menurut dia, data model pada 24 Oktober 2026 memprakirakan adanya potensi pertumbuhan awan hujan sehingga tim memaksimalkan dengan OMC.