
Asako Miyashita Paparkan Lima Makanan Jepang
12 menit yang lalu
Petani Langudon memanfaatkan internet untuk mencari informasi budidaya dan membandingkan harga kakao.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia, jaringan internet yang masuk ke Desa Langudon, Kecamatan Bokat, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, pada 2022 membantu petani kakao mengakses informasi budidaya dan harga. Salah satu warga yang memanfaatkannya adalah Wayan Sudiarsa, petani yang mengelola kebun kakao seluas 0,75 hektare.
Sudiarsa memiliki sekitar 300 pohon kakao dan memeriksa pohon satu per satu. Ia memangkas daun, mengoleskan pestisida untuk mencegah hama penggerek buah kakao, dan memilih buah yang siap dipanen.
Menurut laporan yang sama, warga menggunakan internet untuk mencari informasi pertanian dan membandingkan harga sebelum menjual hasil panen. Istri Sudiarsa, Iloh, menghubungi pengepul serta mengecek harga pasar dan pergerakan kurs dolar AS.
Sudiarsa mengatakan ia belajar tentang budi daya dan penanganan hama melalui YouTube, selain mendapat bimbingan penyuluh pertanian. Ia juga mencoba meracik pupuk organik untuk tanaman mangga, tetapi memilih membeli pupuk untuk kakao.
Kebun Sudiarsa biasanya panen raya sekali sepekan dengan hasil terbanyak mencapai 40 kilogram. Setelah dikeringkan, kakao dibawa Iloh untuk dijual ke Kota Buol, sekitar 25 kilometer dari desa; Sudiarsa menyebut mereka membawa pulang uang Rp2 juta hingga Rp4 juta sekali pergi.
Petani lain, Wayan Adiatmika, mengelola enam hektare lahan perkebunan, dengan satu hektare ditanami kakao. Ia mulai membudidayakan kakao pada 2022 dan, menurut laporan yang sama, menggunakan YouTube dan TikTok untuk mempelajari penanaman, perawatan, serta peningkatan produksi.
Harga kakao mengikuti pergerakan dolar AS dan pasokan pasar. Menurut laporan CNBC Indonesia, harga kakao pada pertengahan Oktober 2026 sebesar Rp96.000 per kilogram, sementara harga yang biasa diperoleh Adiatmika berkisar Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram.
Petani membandingkan harga dengan pengepul melalui WhatsApp sebelum membawa hasil panen langsung ke pengepul di Kota Buol. Adiatmika mengatakan cara itu membuat petani tidak lagi bergantung pada tengkulak; laporan yang sama menyebut mayoritas hasil panen kakao Langudon dijual ke Surabaya.