
Rizky Ridho Siap Kembali Bela Persija Lawan Persik
13 menit yang lalu
Pemkot Jakarta Selatan menargetkan prevalensi stunting turun hingga akhir 2030 melalui koordinasi dan edukasi.
Terbit · 1 min read

Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan menargetkan prevalensi stunting turun dari sekitar 14 persen menjadi 11,2 persen hingga akhir 2030. Menurut laporan ANTARA, target tersebut disampaikan Kepala Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk Jakarta Selatan Rizky Hamid di Jakarta pada 26 Oktober 2026.
Rizky mengatakan data 2023 dan 2024 menunjukkan tren penurunan stunting di Jakarta Selatan. Namun, ia menyebut upaya lebih lanjut diperlukan untuk mencapai target jangka panjang tersebut.
Pemkot Jakarta Selatan berupaya memperkuat koordinasi antarinstansi dan meningkatkan efektivitas program penanganan stunting di wilayahnya. Upaya itu mencakup penguatan intervensi, evaluasi program, serta edukasi gizi dan pola asuh keluarga.
Wakil Wali Kota Jakarta Selatan Firmanudin Ibrahim mengatakan penanganan stunting memerlukan kolaborasi berbagai instansi. Menurut laporan yang sama, ia menilai penyebab stunting tidak hanya terkait kondisi ekonomi, tetapi juga pola asuh anak di masyarakat.
Firmanudin menyebut hasil pemetaan menunjukkan kasus di Jakarta Selatan kerap dipicu tingginya kepercayaan keluarga kepada pengasuh dalam merawat anak. Ia mengatakan edukasi gizi dan pola asuh perlu disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat.
Untuk memperkuat edukasi, pemerintah kota akan mendorong keterlibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat. Firmanudin juga menyebut Kecamatan Jagakarsa sebagai wilayah dengan kasus stunting paling luas dan terpadat di Jakarta Selatan.
Ia mengatakan penanganan perlu melibatkan berbagai pihak secara berjenjang hingga pengurus lingkungan.